Setiap Anak Berhak Berkembang, Abata Lombok Terapkan Sistem Inklusi
dibaca 1 kali
RADIO LOMBOK FM,MATARAM — Di tengah wacana pendidikan yang terus berkembang, Sekolah Abata Lombok memilih menempuh jalur yang tidak banyak diambil: pendidikan inklusif berbasis empati yang diwujudkan dalam sistem nyata.
Bagi Abata Lombok, inklusi bukan sekadar menerima anak berkebutuhan khusus di ruang kelas, melainkan membangun pendekatan yang benar-benar memahami karakter dan kebutuhan setiap anak.
Selama ini, anak dengan kondisi seperti Down Syndrome kerap dipandang dari keterbatasannya. Penilaian lebih sering berfokus pada apa yang tidak bisa mereka lakukan, ketimbang potensi yang dapat dikembangkan.
Abata Lombok justru mengubah sudut pandang tersebut.
“Yang perlu diperbaiki bukan anaknya, tetapi sistem yang belum siap menerima perbedaan,” ujar pembina sekolah, .
Di sekolah ini, pendekatan inklusi diterapkan secara konkret melalui rencana belajar individual bagi setiap siswa. Metode pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak, sehingga guru tidak lagi berperan sebagai satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan sebagai fasilitator proses belajar.
Suasana kelas pun dirancang tanpa sekat antara anak reguler dan anak berkebutuhan khusus. Mereka belajar bersama, berinteraksi secara alami, dan membangun pemahaman sosial sejak dini. Pendekatan ini secara perlahan menggeser pola kompetisi menjadi kolaborasi.
Tak hanya aspek akademik, Abata Lombok juga menekankan pentingnya kepekaan sosial. Anak didorong untuk tidak takut melakukan kesalahan, karena proses belajar dipahami sebagai perjalanan yang wajar, termasuk melalui trial dan error.
“Setiap anak memiliki ritme masing-masing. Tugas sekolah adalah memastikan mereka tetap berkembang,” lanjut Saharjo.
Peran orang tua juga menjadi bagian penting dalam sistem ini. Sekolah melibatkan keluarga agar pendekatan pendidikan yang diterapkan di kelas dapat berlanjut di rumah secara konsisten.
Langkah tersebut dinilai relevan di tengah sistem pendidikan yang masih cenderung menuntut keseragaman. Standar yang sama sering kali mengabaikan kenyataan bahwa setiap anak memiliki latar belakang dan kebutuhan berbeda.
Bagi Abata Lombok, inklusi bukan berarti menyamakan semua anak, melainkan memberikan dukungan yang sesuai agar setiap individu dapat tumbuh optimal.
Pendekatan yang menempatkan empati sebagai dasar sistem ini menjadi ciri khas tersendiri. Meski terlihat sederhana, langkah tersebut dinilai mampu membuka arah baru dalam praktik pendidikan, dimulai dari ruang-ruang kecil yang berdampak besar bagi masa depan anak.








