Belajar Melepas, Menumbuhkan Mandiri: Cara Abata Lombok Membentuk Karakter Anak Sejak Gerbang Sekolah
dibaca 3 kali
RADIO LOMBOK FM,Mataram — Suasana pagi di gerbang Sekolah Abata Lombok tampak berbeda dari kebanyakan sekolah. Tidak semua anak langsung dibantu orang tuanya. Sebaliknya, beberapa terlihat berusaha sendiri—mulai dari merapikan sepatu hingga memanggul tas yang terasa berat.
Salah satunya adalah seorang anak yang sempat terdiam, menatap sepatunya yang belum terpasang sempurna. Ia beberapa kali melirik ke arah orang tua di belakangnya. Namun tanpa bantuan, ia akhirnya mencoba sendiri. Meski belum rapi, ia berhasil, lalu melangkah masuk ke lingkungan sekolah.
Pemandangan ini bukan terjadi secara kebetulan. Pihak sekolah menyebut, hal tersebut merupakan bagian dari pendekatan pendidikan yang sengaja dibangun untuk menumbuhkan kemandirian anak sejak dini.
“Sering kali, bantuan kecil yang kita anggap sepele justru menjadi kebiasaan yang melemahkan,” ungkap Bunda Dita, tim psikolog Sekolah Abata Lombok, Rabu (22/4/2026).
Menurutnya, kebiasaan seperti memakaikan sepatu, membawakan tas, hingga mendampingi anak sampai ke dalam kelas kerap dimaknai sebagai bentuk kasih sayang. Namun dalam jangka panjang, pola ini justru dapat menghambat perkembangan kemandirian anak.
“Anak jadi tidak terbiasa mencoba. Yang terbentuk bukan kemampuan, melainkan ketergantungan,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa pembentukan karakter tidak datang dari intervensi besar, melainkan dari rutinitas sederhana yang dilakukan berulang setiap hari. Jika anak terus dilayani, maka secara perlahan kemandiriannya akan berkurang.
Pendekatan ini kemudian diperkuat dalam kebijakan sekolah. Ketua Tim Manajemen Mutu Sekolah Abata Lombok, Dr (cand) Hj Amalia Shufiana SSi APT MM, menilai bahwa kemandirian anak tidak bisa hanya dibebankan kepada individu anak itu sendiri.
“Kalau anak belum mandiri, itu juga cerminan bahwa sistem belum memberi ruang bagi mereka untuk belajar mandiri,” ujarnya.
Di lingkungan sekolah, perubahan dilakukan secara bertahap. Anak-anak dibiasakan datang tanpa diantar hingga ke dalam kelas, membawa perlengkapan sendiri, serta menyelesaikan kebutuhan personal sederhana secara mandiri.
“Bukan berarti orang tua tidak boleh membantu, tapi perlu ada batas kapan anak dibantu dan kapan ia belajar mencoba sendiri,” kata Amalia.
Ia mengakui, proses adaptasi tidak selalu berjalan mudah. Pada tahap awal, beberapa anak terlihat kebingungan, bahkan sebagian orang tua merasa tidak tega. Namun seiring waktu, pola baru mulai terbentuk.
“Anak yang awalnya ragu, perlahan menjadi lebih percaya diri. Dari yang menunggu, menjadi mampu bergerak sendiri,” tambahnya.
Pendekatan ini sejalan dengan filosofi sekolah yang mengusung konsep “mendidik dengan hati”. Bukan berarti mempermudah segala hal bagi anak, melainkan memberikan pengalaman yang cukup agar mereka mampu menghadapi tantangan.
Perubahan tersebut tampak dari hal-hal sederhana di lingkungan sekolah. Anak-anak mulai terbiasa melakukan aktivitas sendiri, meski belum sempurna. Namun proses belajar itu terus berjalan.
Bagi Sekolah Abata Lombok, pendidikan karakter bukanlah program instan, melainkan hasil dari kebiasaan yang dibangun secara konsisten.
“Yang kita siapkan bukan hanya kenyamanan anak hari ini, tetapi kesiapan mereka menghadapi masa depan,” tutup Bunda Dita.
Pendekatan ini menjadi pengingat bagi banyak orang tua bahwa dalam proses tumbuh kembang anak, ada momen penting untuk tidak hanya mendampingi, tetapi juga belajar melepas secara bertahap.








