Published On: Mon, Jun 8th, 2026

Mengalahkan Diri Sendiri, Jalan Menuju Kemenangan Sejati

dibaca 1 kali

RADIO LOMBOK FM,MATARAM – Di tengah kehidupan yang sering diukur melalui jabatan, kekayaan, dan pencapaian, Saharjo mengajak masyarakat untuk merenungkan kembali makna keberhasilan yang sesungguhnya.

Aktif sebagai notaris, akademisi, pemimpin organisasi profesi, pembina pendidikan, serta tokoh Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), Saharjo mengaku semakin menyadari bahwa kesuksesan lahiriah tidak selalu berbanding lurus dengan ketenangan batin.

Menurutnya, banyak orang menghabiskan sebagian besar hidupnya mengejar jabatan, kekayaan, popularitas, maupun kekuasaan dengan harapan memperoleh kebahagiaan dan rasa aman. Namun setelah semua itu diraih, sering kali muncul pertanyaan yang sama: apa yang sebenarnya dicari?

“Persoalan terbesar manusia bukan kurangnya pencapaian, tetapi kurangnya pemahaman tentang dirinya sendiri,” ujarnya.

Pemikiran tersebut berangkat dari nilai-nilai yang terkandung dalam Mukadimah Persaudaraan Setia Hati Terate yang mengajarkan pentingnya mengenal diri dan membersihkan hati nurani sebagai jalan menemukan makna kehidupan.

Saharjo menilai tantangan terbesar manusia modern bukanlah persaingan dengan orang lain, melainkan kemampuan mengendalikan ego dalam dirinya sendiri. Ego yang selalu ingin menang, dipuji, dan dianggap paling berjasa sering kali menjadi penghalang lahirnya kebijaksanaan.

Karena itu, menurutnya, pencak silat dalam tradisi Setia Hati tidak hanya bertujuan membentuk kekuatan fisik, tetapi juga melatih pengendalian diri dan kesadaran batin.

“Mengalahkan orang lain membutuhkan tenaga, tetapi mengalahkan diri sendiri membutuhkan kesadaran,” katanya.

Lebih lanjut, Saharjo memandang bahwa jabatan, organisasi, maupun lembaga hanyalah sarana untuk berbuat baik, bukan tujuan akhir yang harus dipertahankan mati-matian. Keberhasilan seseorang, menurutnya, tidak diukur dari besar kecilnya kekuasaan yang pernah dimiliki, melainkan dari manfaat yang tetap dirasakan masyarakat setelah ia tidak lagi memegang amanah tersebut.

Pandangan yang sama juga diterapkannya dalam dunia pendidikan. Ia meyakini sekolah tidak hanya bertugas mencetak lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga membantu peserta didik memahami tanggung jawab, mengenal dirinya, dan menemukan tujuan hidup yang bermakna.

Pada akhirnya, kata Saharjo, manusia tidak akan dikenang karena apa yang dimilikinya, melainkan karena nilai dan manfaat yang ditinggalkannya bagi sesama.

“Saat jabatan berakhir dan seluruh atribut dunia dilepaskan, yang tersisa bukanlah apa yang pernah kita miliki, tetapi siapa diri kita sebenarnya,” pungkasnya.

Iklan Teks


Raih ketenangan dengan akses yang luas di Bank Muamalat
Jasa pegadaian berprinsip syariah Islam, kunjungi situs resmi Pegadaian Syariah
Memberikan yang terbaik sesuai kaidah Islam, kunjungi situs resmi BNI Syariah