Sekolah Abata Lombok Dorong Kemandirian Siswa, Bekali Arah Sejak Bangku Sekolah
dibaca 3 kali
RADIO LOMBOK FM,Mataram — Kelulusan dari jenjang sekolah menengah selama ini kerap dianggap sebagai pencapaian akhir. Namun realitas di lapangan menunjukkan hal berbeda. Tidak sedikit lulusan yang justru dihadapkan pada kebingungan menentukan langkah, apakah melanjutkan pendidikan, memasuki dunia kerja, atau sekadar menunggu peluang yang belum pasti.
Fenomena “lulus tapi bingung” menjadi gambaran bahwa sistem pendidikan masih dominan menitikberatkan pada capaian akademik. Sementara itu, bekal keterampilan hidup—terutama kemampuan untuk mandiri secara ekonomi—belum sepenuhnya terbangun.
Melihat kondisi tersebut, SEKOLAH ABATA LOMBOK menghadirkan pendekatan pembelajaran yang berbeda. Sekolah ini menempatkan pembentukan kemandirian sebagai bagian penting dalam proses pendidikan, dengan mendorong siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan nyata.
Berbagai aktivitas praktik diperkenalkan sejak dini, mulai dari menjual produk, mengelola usaha sederhana, hingga memahami dinamika dan risiko dalam berwirausaha. Langkah ini menjadi bagian dari upaya membangun pola pikir mandiri di kalangan siswa.
Salah satu program unggulan yang dijalankan adalah “Satu Siswa Satu Usaha”. Program ini memberi kesempatan bagi siswa, khususnya di tingkat SMA, untuk merasakan langsung pengalaman berwirausaha. Mereka tidak hanya dituntut mencapai hasil, tetapi juga belajar dari setiap proses yang dijalani.
Kepala SMA ABATA LOMBOK, Ricca Veronika, menilai bahwa tantangan utama pendidikan saat ini bukan terletak pada kurangnya materi, melainkan minimnya pengalaman praktis yang dimiliki siswa.
“Banyak siswa lulus dengan nilai akademik yang baik, tetapi belum siap menghadapi realitas kehidupan. Mereka belum terbiasa berpikir bagaimana menciptakan peluang,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pembelajaran mengenai cara menghasilkan dan membangun kemandirian perlu diperkenalkan lebih awal. Tujuannya bukan semata-mata mencetak pengusaha, melainkan membentuk individu yang berani mengambil keputusan dan mampu berdiri di atas kaki sendiri.
Pendekatan ini turut mengubah cara pandang siswa terhadap sekolah. Lingkungan belajar tidak lagi sekadar tempat menerima materi, tetapi menjadi ruang eksplorasi untuk mencoba, mengalami kegagalan, dan memperbaiki diri.
Dalam beberapa tahun terakhir, model pendidikan berbasis praktik seperti ini mulai mendapat perhatian sebagai alternatif di tengah tuntutan dunia kerja yang semakin dinamis. Lulusan tidak hanya dituntut cerdas secara akademik, tetapi juga adaptif dan siap menghadapi perubahan.
SEKOLAH ABATA LOMBOK pun berupaya menjawab tantangan tersebut dengan menghadirkan proses belajar yang lebih relevan dengan kebutuhan masa depan, dimulai dari ruang kelasnya sendiri.








