Halal Bihalal Jadi Media Belajar, Abata Lombok Tanamkan Nilai Karakter Sejak Dini
dibaca 1 kali
RADIO LOMBOK FM,MATARAM — Kegiatan Family Gathering dan Halal Bihalal yang diselenggarakan KB-TK IT Abata Lombok II tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi pasca-Idulfitri. Di balik suasana hangat antara orang tua, siswa, dan guru, tersimpan pendekatan pendidikan yang menempatkan setiap momen sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Kepala Sekolah TK IT Abata Lombok II, Ina Fitriana, menyampaikan apresiasi atas partisipasi orang tua dan siswa dalam kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa nilai-nilai yang diusung dalam acara ini tidak berhenti pada seremoni semata, melainkan menjadi pengalaman nyata bagi anak-anak.
“Indahnya berbagi maaf dan manisnya silaturahmi bukan hanya tema, tetapi nilai yang kami hadirkan secara langsung agar anak-anak dapat merasakannya,” ungkapnya.
Pendekatan ini mencerminkan cara pandang berbeda dalam dunia pendidikan. Abata Lombok tidak memisahkan kegiatan nonformal dari pembelajaran, melainkan menjadikannya sebagai bagian dari kurikulum kehidupan. Anak-anak diajak memahami makna empati dan saling memaafkan melalui pengalaman langsung, bukan hanya melalui penjelasan di dalam kelas.
Berbeda dengan praktik pendidikan konvensional yang cenderung menekankan penyampaian materi secara verbal, Abata memilih menghadirkan pengalaman sebagai sarana utama belajar. Dengan demikian, batas antara kegiatan seremonial dan proses edukasi menjadi semakin menyatu.
Tak hanya itu, nilai empati juga ditanamkan secara kolektif. Ketidakhadiran sebagian siswa dalam kegiatan ini tidak dipandang sebagai kekurangan semata, melainkan menjadi momen untuk menumbuhkan kepedulian melalui doa dan harapan kesembuhan dari seluruh komunitas sekolah.
Sikap terbuka terhadap evaluasi juga menjadi bagian dari budaya yang dibangun. Pihak sekolah mengakui adanya kekurangan dalam pelaksanaan kegiatan, dan menjadikannya sebagai bahan pembelajaran bersama. Hal ini menunjukkan bahwa proses belajar tidak hanya berlaku bagi siswa, tetapi juga bagi institusi pendidikan itu sendiri.
Melalui pendekatan ini, Abata Lombok secara tidak langsung menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada capaian akademik. Pembentukan karakter, nilai kemanusiaan, dan kesadaran sosial menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari setiap aktivitas.
Dengan konsistensi pendekatan tersebut, setiap momen baik kehadiran, ketidakhadiran, keberhasilan, maupun kekurangan dapat menjadi ruang belajar yang bermakna. Di tengah sistem pendidikan yang masih berfokus pada angka, Abata Lombok memilih menempatkan pembangunan karakter sebagai fondasi utama.








