Saharjo: Dalam Keheningan Energi Sejatinya Dilahirkan
dibaca 30 kali
RADIO LOMBOK FM, Lombok – Di tengah riuh dunia yang sering memaksa manusia untuk kuat di luar, Saharjo mengajak untuk kembali ke ruang terdalam diri ruang sunyi tempat doa dipanjatkan, luka diterima, dan kesadaran dilahirkan. Di sanalah, menurutnya, energi sejati Setia Hati bersemi.
“Energi itu tidak lahir dari amarah, bukan pula dari keinginan menguasai,” tutur Saharjo lirih. “Ia lahir dari doa yang dipanjatkan dengan air mata, dari luka yang tidak dibalas dendam, dan dari kesadaran yang tumbuh dalam keheningan.”
Dalam ajaran Setia Hati Terate, keheningan bukan kelemahan. Ia adalah jalan panjang menuju kedewasaan batin. Setia Hati mengajarkan untuk menang lebih dulu atas diri sendiri, menundukkan ego, dan merawat hati agar tetap jernih meski hidup sering melukai.
“Luka itu pasti ada. Bahkan pada orang yang berjalan di jalan kebaikan. Tapi Setia Hati tidak mengajarkan kita membalas luka dengan luka. Ia mengajarkan kita menyembuhkannya dengan doa dan kesabaran,” ujar Saharjo dengan suara penuh makna.
Ia menegaskan, keselarasan hidup antara lahir dan batin, antara manusia dan Tuhannya hanya dapat dijaga jika seseorang mampu diam, mendengar, dan menyadari. Dalam diam itulah doa menemukan maknanya, dan hati menemukan arahnya.
Bagi Saharjo, Setia Hati sejatinya adalah laku spiritual. Setiap gerak adalah pengendalian diri. Setiap langkah adalah niat baik. Dan setiap keheningan adalah pengakuan bahwa manusia hanyalah hamba yang bergantung sepenuhnya pada Allah SWT.
“Orang Setia Hati sejati bukan yang paling keras suaranya, tetapi yang paling dalam doanya. Bukan yang paling kuat tangannya, tetapi yang paling lapang hatinya,” tuturnya.
Di akhir pernyataannya, Saharjo berpesan kepada seluruh warga Setia Hati, khususnya generasi muda, agar tidak kehilangan ruh ajaran ini. Di zaman yang cepat dan bising, Setia Hati harus tetap menjadi rumah bagi jiwa-jiwa yang ingin kuat tanpa melukai, tegas tanpa membenci, dan menang tanpa merendahkan.
“Karena di sanalah,” pungkas Saharjo, “energi sejati Setia Hati dilahirkan dan dijaga, dalam kesadaran dan keheningan.”








