Published On: Tue, Sep 15th, 2026

ABATA Ingatkan: Anak Meniru Apa yang Dilihat, Bukan Sekadar Apa yang Didengar

dibaca 1 kali

RADIO LOMBOK FM,MATARAM — SEKOLAH ABATA LOMBOK mengingatkan bahwa masalah kedisiplinan, kejujuran, dan karakter anak tidak selalu bermula dari diri anak itu sendiri. Sering kali, akar persoalan justru dapat ditelusuri dari contoh yang mereka lihat setiap hari dari orang-orang dewasa di sekitarnya.

Karena itu, ABATA menempatkan keteladanan guru sebagai salah satu fondasi utama dalam membangun mutu pendidikan. Bagi sekolah ini, guru tidak cukup hanya cerdas, menguasai materi, dan mampu mengajar dengan baik. Guru juga harus menjadi contoh nyata dari nilai-nilai yang ingin ditanamkan kepada siswa.

Kepala SMA ABATA LOMBOK, Ricca Veronica, S.Pd., Gr., menegaskan bahwa pendidikan sejatinya berlangsung sepanjang waktu, bukan hanya saat proses belajar mengajar di dalam kelas.

“Anak melihat bagaimana gurunya datang, berbicara, bekerja, menepati janji, mengendalikan emosi, dan memperlakukan orang lain. Semua itu adalah pendidikan,” ujarnya.

Menurut Ricca, banyak orang dewasa berharap anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang disiplin, jujur, bertanggung jawab, santun, dan menghargai orang lain. Namun harapan itu tidak akan efektif jika nilai-nilai tersebut tidak lebih dulu terlihat dalam perilaku orang dewasa yang menjadi panutan mereka.

Di ABATA, guru dipandang sebagai “kurikulum hidup”. Apa yang dilakukan guru setiap hari sering kali lebih membekas dibandingkan apa yang mereka sampaikan di depan kelas. Sebab anak belajar bukan hanya dengan mendengar, tetapi juga dengan mengamati dan meniru.

Karena itu, ketika muncul persoalan pada siswa, ABATA tidak hanya bertanya apa yang salah pada anak. Sekolah juga melakukan refleksi terhadap lingkungan yang membentuk mereka.

“Pendidikan berhasil ketika anak tetap melakukan hal yang benar meskipun tidak ada guru yang mengawasinya. Pada titik itulah pengetahuan berubah menjadi karakter,” kata Ricca.

ABATA meyakini bahwa pembentukan karakter tidak terjadi secara instan. Prosesnya dimulai dari perilaku guru yang membentuk budaya sekolah. Budaya kemudian melahirkan kebiasaan, kebiasaan membentuk karakter, dan karakter pada akhirnya menentukan kualitas lulusan.

Pandangan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kualitas generasi masa depan tidak bisa dilepaskan dari kualitas keteladanan yang mereka terima hari ini.

Ketika anak belum disiplin, mungkin yang perlu dipertanyakan bukan hanya perilaku anak, tetapi juga apakah mereka telah melihat kedisiplinan dari orang dewasa di sekitarnya. Ketika anak belum jujur, mungkin yang perlu direnungkan adalah sejauh mana kejujuran telah menjadi kebiasaan dalam lingkungan yang mereka lihat setiap hari.

Bagi ABATA, pertanyaan terpenting dalam pendidikan bukanlah semata-mata “akan menjadi seperti apa anak-anak kita nanti”, melainkan “teladan seperti apa yang sedang kita tunjukkan kepada mereka hari ini”.

Sebab anak-anak tidak hanya mendengar apa yang diajarkan. Mereka sedang merekam siapa diri orang-orang yang mengajarkan mereka.

Dan menurut ABATA, masa depan seorang murid sesungguhnya mulai terlihat dari perilaku gurunya hari ini.

Iklan Teks


Raih ketenangan dengan akses yang luas di Bank Muamalat
Jasa pegadaian berprinsip syariah Islam, kunjungi situs resmi Pegadaian Syariah
Memberikan yang terbaik sesuai kaidah Islam, kunjungi situs resmi BNI Syariah