Published On: Wed, Sep 9th, 2026

Abata Perkuat Budaya Pendidikan Berbasis Pengukuran, Setiap Anak Harus Bertumbuh

dibaca 1 kali

RADIO LOMBOK FM,MATARAM — Sekolah Abata Lombok menegaskan komitmennya membangun pendidikan yang tidak hanya ramai oleh program dan aktivitas, tetapi mampu menunjukkan dampak nyata terhadap perkembangan setiap peserta didik.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui sebuah siklus pengendalian mutu yang kini menjadi landasan seluruh proses pendidikan di lingkungan Abata, yaitu Ukur – Pahami – Dampingi – Ukur Kembali – Perbaiki.

Direktur Sekolah Abata Lombok, Fahrun Nitza, S.Pd., Gr., mengatakan bahwa pendidikan tidak cukup hanya memastikan siswa mengikuti proses belajar. Sekolah harus mampu mengetahui apa yang telah dikuasai anak, potensi yang dimiliki, tantangan yang dihadapi, serta langkah yang perlu dilakukan agar mereka terus berkembang.

Menurutnya, setiap anak memiliki kebutuhan dan kecepatan belajar yang berbeda. Karena itu, seluruh proses pendidikan harus didasarkan pada data dan hasil pengukuran yang jelas, bukan sekadar asumsi.

“Kami tidak ingin hanya mengatakan bahwa anak sudah belajar. Kami ingin mengetahui apa yang telah dikuasainya, apa potensinya, bagian mana yang masih membutuhkan pendampingan, lalu memastikan ada perkembangan yang benar-benar bisa dibuktikan,” ujarnya.

Sebagai bagian dari sistem tersebut, berbagai instrumen asesmen seperti STS, SAS/SAT, TKA, praktik pembelajaran, proyek, observasi, hingga kompetisi digunakan sebagai alat untuk memetakan perkembangan peserta didik. Seluruh instrumen itu tidak dipandang sebagai tujuan pendidikan, melainkan sebagai sarana untuk memahami kondisi dan kebutuhan setiap anak.

Fahrun menegaskan, ketika hasil pengukuran menunjukkan capaian yang belum sesuai harapan, evaluasi tidak berhenti pada siswa. Guru dan wali kelas melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran yang telah berlangsung, kepala sekolah mengendalikan capaian program, sementara manajemen memastikan dukungan sistem, program kerja, dan standar operasional berjalan secara efektif.

Dengan pendekatan tersebut, setiap anak diharapkan memiliki peta perkembangan yang jelas. Potensi yang dimiliki dapat ditemukan lebih awal, hambatan belajar dapat segera diatasi, dan bakat yang menonjol memperoleh ruang untuk berkembang secara optimal.

Anak yang membutuhkan penguatan akan mendapatkan pendampingan yang lebih intensif. Sementara itu, anak yang telah mencapai target diberikan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dan prestasinya pada level yang lebih tinggi. Setelah proses pendampingan dilakukan, perkembangan mereka kembali diukur untuk memastikan adanya peningkatan yang nyata.

“Kalau belum berhasil, jangan berhenti. Cari penyebabnya dan perbaiki. Bahkan kebijakan sekolah sendiri harus berani dievaluasi berdasarkan dampaknya terhadap anak,” tegas Fahrun.

Melalui pola kerja tersebut, Abata ingin memastikan bahwa setiap lulusan tidak hanya memperoleh ijazah atau berhasil naik jenjang pendidikan, tetapi benar-benar mengalami pertumbuhan yang utuh. Mulai dari aspek akademik, karakter, keislaman, komunikasi, kreativitas, kemandirian, kebugaran, hingga pengembangan potensi unggulan yang dimiliki masing-masing siswa.

Bagi Abata, keberhasilan pendidikan tidak diukur dari angka semata. Yang paling penting adalah sejauh mana sekolah mampu membantu setiap anak menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Semangat itulah yang kini menjadi ruh perubahan di Sekolah Abata Lombok, sebagaimana dirangkum dalam satu kalimat sederhana namun penuh makna:

“Nilai bukan tujuan. Perkembangan anak adalah tujuan.”

Iklan Teks


Raih ketenangan dengan akses yang luas di Bank Muamalat
Jasa pegadaian berprinsip syariah Islam, kunjungi situs resmi Pegadaian Syariah
Memberikan yang terbaik sesuai kaidah Islam, kunjungi situs resmi BNI Syariah