Sekolah Abata Lombok Padukan Prestasi dan Life Skill untuk Mencetak Generasi Tangguh
dibaca 1 kali
RADIO LOMBOK FM,MATARAM — Prestasi akademik yang gemilang menjadi salah satu identitas Sekolah Abata Lombok. Berbagai capaian di tingkat regional, nasional, hingga internasional telah mengukuhkan sekolah ini sebagai salah satu lembaga pendidikan yang konsisten melahirkan siswa berprestasi.
Namun bagi Abata, pendidikan tidak berhenti pada perolehan nilai tinggi, piala, maupun medali. Sekolah ini menempatkan pengembangan life skill atau kecakapan hidup sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran.
Melalui berbagai program pendidikan, siswa tidak hanya didorong untuk unggul secara akademik, tetapi juga dibekali kemampuan berkomunikasi, memimpin, bekerja sama, berwirausaha, mengelola diri, menyelesaikan masalah, hingga mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Guru Sekolah Abata Lombok, Ina Fitriana, S.Pd., Gr., menegaskan bahwa keberhasilan seorang anak tidak semata-mata diukur dari prestasi yang diraih selama masa sekolah.
“Kami tentu bangga ketika anak-anak Abata menjadi juara. Tetapi pendidikan tidak selesai ketika medali dikalungkan. Anak harus mampu mengurus dirinya, berkomunikasi, menyelesaikan masalah, dan berani mengambil keputusan. Kami ingin mereka bukan hanya siap menghadapi perlombaan, tetapi siap menghadapi kehidupan,” ujarnya.
Menurut Ina, pendidikan yang ideal harus mampu mengintegrasikan berbagai aspek pembentukan karakter dan kompetensi siswa. Akademik berperan mengasah kecerdasan, kompetisi membentuk mental juara, life skill menumbuhkan kemandirian, sementara pendidikan Islam menjadi fondasi iman dan adab.
Seluruh unsur tersebut, kata dia, harus berjalan beriringan agar menghasilkan pribadi yang utuh dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Abata Lombok berupaya menghindari kondisi ketika seorang anak mampu menyelesaikan soal-soal sulit di ruang kelas, tetapi kesulitan menghadapi persoalan nyata dalam kehidupannya. Karena itu, pendidikan karakter dan kecakapan hidup menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar.
Dengan filosofi tersebut, Abata tidak memilih antara prestasi atau karakter, antara kecerdasan atau kemandirian, maupun antara teknologi atau nilai-nilai agama. Semuanya dikembangkan secara bersamaan sebagai bekal bagi siswa untuk menjalani kehidupan yang lebih luas setelah meninggalkan bangku sekolah.
Bagi Abata Lombok, medali dan penghargaan memang menjadi bukti kemampuan seorang anak dalam memenangkan kompetisi hari ini. Namun iman, karakter, kemandirian, dan kecakapan hiduplah yang akan menentukan bagaimana mereka menjalani perjalanan hidup dalam jangka panjang.
Sebab pada akhirnya, seorang anak hanya berstatus sebagai siswa selama beberapa tahun, tetapi akan menjadi manusia sepanjang hidupnya.








