17 Tahun Abata Lombok, Satukan Keberagaman dan Cetak Generasi Unggul
dibaca 1 kali
RADIO LOMBOK FM,LOMBOK TENGAH — Sekolah Abata Lombok memperingati puncak Hari Ulang Tahun (HUT) ke-17 pada Minggu (25/10/2026). Mengusung tema “Abata Warna-Warni: Together in Diversity, Stronger for a Brighter Future”, perayaan ini menjadi momentum untuk memperkuat komitmen dalam menghadirkan pendidikan inklusif, membangun karakter, serta mengembangkan potensi peserta didik agar mampu berkarya dan bersaing di masa depan.
Kegiatan yang dihadiri sekitar seribuan murid, orang tua, tenaga pendidik, serta tamu undangan, termasuk perwakilan Ombudsman RI Perwakilan NTB, berlangsung dengan beragam agenda yang memadukan unsur pendidikan, sosial, kesehatan, seni, dan olahraga.
Rangkaian kegiatan HUT ke-17 Abata Lombok meliputi pemeriksaan kesehatan (medical check-up), donor darah, pameran seni, bazar, pertunjukan bakat, jalan sehat, pelayanan sosial, hingga kompetisi futsal.
Berbagai kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi bagian dari perayaan ulang tahun lembaga, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi peserta didik untuk mengasah kreativitas, membangun kepercayaan diri, menumbuhkan kepedulian sosial, serta membiasakan pola hidup sehat dan menghargai keberagaman.
Ketua Yayasan Abata Lombok, Hj. Amalia Shufiana, S.Si., A.Pt., M.M., mengatakan bahwa perjalanan selama 17 tahun menjadi motivasi bagi yayasan untuk terus berinovasi dan meningkatkan kontribusi di bidang pendidikan.
“Abata Lombok telah melalui perjalanan selama 17 tahun. Ini menjadi momentum bagi kami untuk terus berkarya, berinovasi, dan memberikan pelayanan pendidikan yang semakin baik kepada masyarakat,” ujarnya.
Menurut Amalia, tema Abata Warna-Warni menggambarkan keberagaman sebagai kekuatan dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang terbuka dan mendukung perkembangan setiap anak.
Perbedaan latar belakang, karakter, dan potensi peserta didik, kata dia, harus dihargai agar setiap anak memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.
Melalui perayaan tersebut, pihak yayasan berharap peserta didik tidak hanya mendapatkan pengetahuan di ruang kelas, tetapi juga memperoleh pengalaman yang dapat mengembangkan bakat, meningkatkan rasa percaya diri, serta memperkuat kepedulian terhadap sesama.
Pembina Yayasan Abata Lombok, Dr. Saharjo, S.H., M.Kn., M.H., menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada pencapaian akademik. Lebih dari itu, pendidikan harus menjadi proses pembentukan manusia yang memiliki karakter, tanggung jawab, kreativitas, dan kemampuan menghadapi tantangan kehidupan.
Menurutnya, lembaga pendidikan memiliki peran strategis dalam mempersiapkan generasi yang tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu menerapkannya menjadi karya yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Lembaga pendidikan memiliki peran strategis dalam menyiapkan generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga mampu menerapkan ilmu yang dimiliki untuk menghasilkan karya dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Ia menambahkan, pendidikan berkualitas membutuhkan lingkungan belajar yang mendorong anak mengenali potensi diri, mengembangkan kreativitas, dan menghargai perbedaan.
Karena itu, peringatan HUT ke-17 Abata Lombok diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara yayasan, tenaga pendidik, orang tua, pemerintah, dan masyarakat dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas.
Saharjo, yang juga menjabat Ketua Pengurus Wilayah Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (IPPAT) Nusa Tenggara Barat, berharap peserta didik Abata Lombok tumbuh menjadi generasi berpengetahuan, berkarakter, kreatif, dan siap menghadapi perubahan zaman.
Sementara itu, Ketua Ombudsman RI Perwakilan Nusa Tenggara Barat, Dwi Sudarsono, menegaskan bahwa pendidikan memiliki tanggung jawab besar dalam menyiapkan generasi muda yang mampu menghadapi tantangan masa depan.
Ia menyebutkan tiga aspek penting yang harus menjadi perhatian dalam penyelenggaraan pendidikan, yakni penguatan intelektualitas, pengembangan kemampuan berkarya yang berdaya saing, serta pembentukan moralitas peserta didik.
“Pendidikan bertugas menyiapkan intelektualitas, menyiapkan anak-anak agar mampu berkarya dan memiliki daya saing, serta membangun moralitas,” ujarnya.
Menurut Dwi, kecerdasan akademik harus berjalan beriringan dengan keterampilan dan pembentukan karakter. Peserta didik tidak cukup hanya dibekali pengetahuan, tetapi juga perlu didorong untuk mengembangkan potensi, menghasilkan karya, dan beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat.
Ia juga mengapresiasi kontribusi Abata Lombok yang selama 17 tahun telah memberikan pelayanan pendidikan kepada masyarakat. Keberadaan lembaga pendidikan seperti Abata Lombok dinilai menjadi bagian penting dari ekosistem pendidikan yang membutuhkan dukungan dan kolaborasi berbagai pihak.
Di sisi lain, Dwi menekankan tanggung jawab pemerintah dalam memastikan masyarakat memperoleh akses terhadap pelayanan pendidikan yang adil, berkualitas, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat perlu terus diperkuat agar pendidikan tidak hanya berfokus pada proses pembelajaran, tetapi juga menghasilkan generasi yang memiliki kecakapan, moralitas, kreativitas, dan daya saing.
Perayaan HUT ke-17 Abata Lombok pun menjadi pengingat bahwa pendidikan merupakan investasi jangka panjang untuk membangun generasi masa depan. Melalui semangat keberagaman dan penguatan karakter, Abata Lombok berkomitmen untuk terus menghadirkan lingkungan belajar yang memberi ruang bagi setiap anak untuk berkembang, berkarya, dan meraih masa depan yang lebih baik.








