IAIH NW Resmi Jadi Universitas, Saharjo Dorong Lahirnya Generasi Unggul dari Lombok
dibaca 1 kali
RADIO LOMBOK FM,MATARAM — Transformasi Institut Agama Islam Hamzanwadi Nahdlatul Wathan (IAIH NW) Lombok Timur menjadi Universitas Islam Hamzanwadi Nahdlatul Wathan menandai babak baru pendidikan Islam di Nusa Tenggara Barat (NTB). Perubahan status tersebut ditetapkan melalui Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 1303 Tahun 2026.
Pencapaian ini mendapat apresiasi dari Dr. Saharjo, S.H., M.Kn., M.H., pemerhati pendidikan di Lombok sekaligus Ketua Pengurus Wilayah Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (IPPAT) NTB. Ia menilai perubahan status tersebut bukan sekadar capaian kelembagaan, melainkan momentum untuk memperluas kontribusi pendidikan tinggi bagi masyarakat dan bangsa.
Menurut Saharjo, keberhasilan tersebut merupakan hasil dari perjalanan panjang pengabdian Nahdlatul Wathan dalam mengembangkan pendidikan. Momentum ini sekaligus menjadi kesempatan untuk melanjutkan cita-cita pendiri Nahdlatul Wathan, Maulanasyaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, dalam mencerdaskan umat dan meningkatkan martabat manusia.
“Ini bukan puncak perjuangan, melainkan awal lompatan besar. Fondasi yang telah dibangun para pendahulu harus menjadi pijakan bagi generasi penerus untuk melangkah lebih jauh dan menghadirkan manfaat yang lebih luas,” ujar Saharjo.
Ia berharap, status baru tersebut menjadi dorongan bagi Universitas Islam Hamzanwadi Nahdlatul Wathan untuk meningkatkan mutu pendidikan, memperluas pengembangan ilmu pengetahuan, serta memperkuat reputasi akademik di tingkat nasional hingga internasional.
Saharjo optimistis, kekuatan sejarah, nilai keislaman, jaringan pendidikan, dan tradisi pengabdian Nahdlatul Wathan merupakan modal penting untuk membangun perguruan tinggi yang unggul dan mampu bersaing di tengah perkembangan zaman.
Ia juga menegaskan bahwa perguruan tinggi di daerah memiliki peluang yang sama untuk melahirkan pemikiran besar dan sumber daya manusia berkualitas.
“Saya percaya, dari Lombok dapat lahir ilmuwan berkelas dunia, pemimpin berintegritas, dan generasi yang membawa kemajuan bagi Indonesia. Tidak ada alasan bagi perguruan tinggi di daerah untuk membatasi cita-citanya,” katanya.
Selain penguatan akademik, Saharjo mengingatkan pentingnya pembentukan karakter dalam proses pendidikan. Sebagai sesepuh Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) NTB, ia berpandangan bahwa kecerdasan intelektual harus berjalan seiring dengan keluhuran budi, kepedulian sosial, dan tanggung jawab terhadap masyarakat.
Baginya, universitas yang berkualitas tidak cukup hanya menghasilkan lulusan berpengetahuan luas. Lebih dari itu, perguruan tinggi harus mampu membentuk pribadi yang berintegritas dan mengabdikan ilmunya untuk kepentingan bersama.
Saharjo berharap Universitas Islam Hamzanwadi Nahdlatul Wathan dapat berkembang menjadi salah satu pusat keunggulan pendidikan Islam di Indonesia, dengan memadukan nilai spiritual, inovasi, dan kemajuan ilmu pengetahuan.
Ia pun mengajak seluruh civitas akademika, mulai dari pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa hingga alumni, untuk menjadikan perubahan status tersebut sebagai energi baru dalam meningkatkan kualitas dan prestasi institusi.
“Jangan pernah merasa kecil karena berada di daerah. Kebesaran sebuah universitas tidak ditentukan oleh letak geografisnya, tetapi oleh keluasan pemikiran, kualitas manusianya, dan besarnya manfaat yang diberikan kepada dunia,” tegasnya.
Saharjo turut menyampaikan selamat dan apresiasi kepada seluruh keluarga besar Nahdlatul Wathan yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang lembaga pendidikan tersebut.
Ia berharap, kehadiran Universitas Islam Hamzanwadi Nahdlatul Wathan semakin memperkuat optimisme terhadap masa depan pendidikan di NTB sekaligus membuka peluang lebih luas bagi generasi muda untuk meraih kemajuan.
“Hari ini kita merayakan sebuah pencapaian. Esok, kita harus membangun prestasi yang lebih besar. Teruslah tumbuh, teruslah berkarya, dan jangan pernah berhenti memberi manfaat. Dunia pendidikan Indonesia menanti kontribusi besar dari Lombok,” pungkasnya.








