Published On: Sun, Feb 8th, 2026

Sosok Dibalik Langkah Sukses Program Satu Siswa Satu Usaha Sekolah Abata Lombok

dibaca 34 kali

RADIO LOMBOK FM, Lombok – Di tengah gemerlap dan hiruk pikuk Lombok Epicentrum Mall, ada detik-detik sunyi yang tak terdengar oleh telinga, tetapi menggema kuat di hati. Detik ketika seorang Saharjo berdiri menatap anak-anak didiknya bukan dengan kebanggaan yang berisik, melainkan dengan mata berkaca-kaca dan dada yang penuh doa.

Dialah Dr. Saharjo, SH MKn MH Pembina Sekolah Abata Lombok.
Bagi Saharjo, hari itu bukan sekadar pameran. Itu adalah jawaban atas keyakinan panjang—bahwa anak-anak, jika dipercaya dan dibimbing dengan hati, akan tumbuh melampaui keterbatasan mereka sendiri.

Dengan suara yang pelan namun bergetar, Saharjo menyampaikan pesan kepada para guru dan siswa:
“Pendidikan bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, tetapi siapa yang tidak pernah ditinggalkan dalam perjalanan.”

Dari keyakinan itulah lahir gagasan Satu Siswa Satu Usaha. Bukan slogan. Bukan hiasan dinding. Melainkan jalan hidup yang ia titipkan pada Abata. Hari itu, jalan itu terbentang nyata di depan mata.

Anak-anak berdiri dengan karya mereka.
Siswa desain grafis menunjukkan hasil ciptaan dengan tangan sedikit gemetar namun mata penuh harap.
Para barista muda menyeduh kopi dengan kesungguhan, seolah setiap cangkir adalah bukti bahwa mereka bisa dipercaya.
Siswa produksi sabun mempresentasikan hasil racikan mereka produk sederhana, tetapi sarat pelajaran tentang ketekunan dan tanggung jawab.

Tak sedikit pengunjung yang terdiam. Ada yang tersenyum, ada yang bertanya, ada pula yang menahan air mata. Karena yang mereka lihat bukan sekadar usaha kecil, melainkan anak-anak yang sedang belajar berdiri di atas kakinya sendiri.

Di balik semua itu, Saharjo tahu betul: keberanian anak-anak lahir dari ketulusan guru-guru yang mengajar dengan hati. Ia mendorong para guru Abata untuk tidak lelah menyemangati, tidak cepat menyerah, dan tidak pernah mematikan mimpi hanya karena takut gagal.
“Kalau anak jatuh, tugas kita bukan memarahi tetapi menggenggam tangannya,” pesannya.

Saat malam perlahan menutup pameran, stan-stan itu mungkin akan dibongkar. Produk akan dibawa pulang. Lampu-lampu akan dipadamkan.
Namun Saharjo tahu, ada sesuatu yang tidak akan pernah padam:
kepercayaan diri anak-anak Abata,
rasa bahwa mereka berharga,
dan keyakinan bahwa masa depan bisa diperjuangkan.

Di sanalah air mata itu jatuh bukan karena sedih, melainkan karena harapan akhirnya menemukan wujudnya.
Dan Abata Lombok kembali membuktikan satu hal yang sederhana namun sakral:
pendidikan yang lahir dari hati, akan selalu menemukan jalannya ke hati.

Iklan Teks


Raih ketenangan dengan akses yang luas di Bank Muamalat
Jasa pegadaian berprinsip syariah Islam, kunjungi situs resmi Pegadaian Syariah
Memberikan yang terbaik sesuai kaidah Islam, kunjungi situs resmi BNI Syariah