Published On: Thu, Sep 17th, 2026

Saat Reog dan Gendang Beleq Beriringan, SH Terate Menjahit Persaudaraan di Bumi Lombok

dibaca 1 kali

RADIO LOMBOK FM,MATARAM — Keluarga besar Persaudaraan Setia Hati Terate (SH Terate) Nusa Tenggara Barat tengah mempersiapkan Kirab Budaya SH Terate 2026 yang akan digelar pada Minggu, 25 Oktober 2026. Kegiatan ini dirancang bukan sekadar pawai organisasi pencak silat, melainkan sebagai perayaan budaya, spiritualitas, dan nilai-nilai persaudaraan yang menjadi ruh SH Terate.

Kirab akan menghadirkan beragam unsur budaya dan sosial, mulai dari atraksi pencak silat, kesenian Reog, Gendang Beleq, dzikir dan doa bersama, hingga tradisi makan bersama ala Sasak atau begibung. Rangkaian kegiatan tersebut disusun untuk memperlihatkan wajah SH Terate sebagai organisasi yang menjunjung tinggi budaya, ketertiban, dan pengabdian kepada masyarakat.

Salah satu sesepuh SH Terate NTB, Dr. Saharjo, SH, MKn, MH, mengatakan kirab budaya menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa SH Terate tidak hanya berbicara tentang kemampuan bela diri, tetapi juga tentang pembentukan karakter dan penguatan nilai kemanusiaan.

“SH Terate bukan hanya tentang kemampuan pencak silat. Di dalamnya ada pendidikan karakter, penghormatan kepada sesama, budaya, pengabdian, dan persaudaraan yang harus terus dijaga,” ujarnya.

Kirab dijadwalkan dimulai sejak pagi hari dengan barisan warga SH Terate yang mengenakan Baju Sakral SH Terate dan berjalan secara tertib. Sepanjang perjalanan, masyarakat akan disuguhi penampilan Reog yang merepresentasikan kekayaan budaya Jawa serta Gendang Beleq yang menjadi identitas budaya Sasak-Lombok.

Menurut Saharjo, perpaduan dua kesenian tersebut menjadi simbol harmonisasi budaya yang tumbuh dalam lingkungan SH Terate di NTB.

“Reog membawa jejak tradisi. Gendang Beleq membawa jiwa Lombok. Kita pertemukan keduanya dalam satu barisan persaudaraan,” katanya.

Sementara itu, sesepuh SH Terate NTB lainnya, Dwi Sudarsono, menegaskan bahwa kirab budaya harus menjadi sarana untuk menunjukkan kedewasaan warga SH Terate di tengah masyarakat.

Menurutnya, keberhasilan kegiatan tidak diukur dari banyaknya peserta yang hadir, melainkan dari bagaimana warga mampu menampilkan sikap tertib, menghormati masyarakat, serta menjaga kerukunan selama kegiatan berlangsung.

“Kirab ini bukan soal berapa banyak warga yang turun ke jalan. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menunjukkan ketertiban, kerukunan, penghormatan kepada masyarakat, dan rasa memiliki terhadap budaya tempat kita hidup,” ujar Dwi.

Ia menambahkan, nilai persaudaraan akan semakin bermakna apabila diwujudkan dalam hubungan yang baik dengan masyarakat luas.

“Persaudaraan harus membawa manfaat. Di mana warga SH Terate berada, di sana seharusnya hadir rasa aman, saling menghormati, dan semangat untuk menjaga kebersamaan,” tambahnya.

Usai kirab, kegiatan akan dilanjutkan dengan seremoni, atraksi pencak silat, penyampaian pesan-pesan persaudaraan, tausiyah, serta dzikir dan doa bersama. Unsur spiritual sengaja ditempatkan sebagai bagian penting dari rangkaian acara karena dianggap sebagai fondasi utama dalam membangun karakter warga SH Terate.

Saharjo menegaskan bahwa kekuatan organisasi tidak semata-mata diukur dari jumlah anggota atau kemampuan bela diri, tetapi dari kemampuan setiap warga untuk mengendalikan diri dan menjaga nilai-nilai kemanusiaan.

“Kekuatan terbesar SH Terate adalah ketika warganya mampu mengendalikan diri, menjaga saudara, menghormati masyarakat, dan menempatkan nilai kemanusiaan di atas kepentingan pribadi,” tegasnya.

Rangkaian kegiatan kemudian akan ditutup dengan begibung, tradisi makan bersama masyarakat Sasak yang sarat makna kebersamaan dan kesetaraan. Dalam tradisi ini, seluruh peserta duduk bersama menikmati hidangan yang sama tanpa memandang status maupun latar belakang.

“Dalam begibung, kita duduk sama rendah, makan bersama, dan saling berbagi. Nilai itu sangat dekat dengan semangat persaudaraan yang ingin terus kita jaga di SH Terate,” kata Saharjo.

Dwi Sudarsono menilai begibung menjadi penutup yang sempurna karena menyatukan seluruh peserta dalam suasana kekeluargaan.

“Kirab mempertemukan langkah kita, doa menyatukan hati kita, dan begibung membuat kita duduk bersama sebagai saudara. Tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebih rendah,” ujarnya.

Mengusung tema “Merawat Budaya, Meneguhkan Persaudaraan, Mengabdi untuk Kemanusiaan,” Kirab Budaya SH Terate 2026 diharapkan menjadi ruang perjumpaan budaya Jawa dan Sasak sekaligus menunjukkan bahwa pencak silat dapat berjalan beriringan dengan budaya, spiritualitas, ketertiban, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Dari langkah bersama dalam kirab, lantunan doa yang menguatkan, hingga kebersamaan dalam begibung, satu pesan yang ingin diteguhkan adalah bahwa persaudaraan tidak cukup diucapkan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

Iklan Teks


Raih ketenangan dengan akses yang luas di Bank Muamalat
Jasa pegadaian berprinsip syariah Islam, kunjungi situs resmi Pegadaian Syariah
Memberikan yang terbaik sesuai kaidah Islam, kunjungi situs resmi BNI Syariah