Published On: Mon, Apr 6th, 2026

MBG Jadi Titik Balik, Sekolah Abata Lombok Ajak Siswa Bangkit Jadi Pengusaha dengan Hati yang Kuat

dibaca 2 kali

RADIO LOMBOK FM, Mataram — Suasana haru menyelimuti pernyataan Pembina Sekolah Sekolah Abata Lombok, Saharjo, saat menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar program pemenuhan kebutuhan dasar, melainkan harapan baru bagi masa depan anak-anak Indonesia.

Dengan penuh keyakinan, ia menyebut bahwa di balik setiap porsi makanan yang tersaji, tersimpan mimpi besar tentang generasi yang lebih kuat, sehat, dan mandiri.

“Ini bukan hanya tentang makan. Ini tentang harapan. Tentang masa depan anak-anak kita yang hari ini kita jaga bersama,” ujar Saharjo.

Di Sekolah Abata Lombok, program MBG tidak berhenti di dapur. Ia tumbuh menjadi gerakan perubahan. Dari dapur sederhana, lahir gagasan besar: setiap siswa harus memiliki usaha, sekecil apa pun itu.

Program “Satu Siswa Satu Usaha” pun dipercepat. Siswa diajak tidak hanya menerima, tetapi juga memberi. Tidak hanya belajar, tetapi juga berjuang.

“Anak-anak kami tidak boleh hanya menjadi penonton. Mereka harus menjadi pelaku. Dari tangan mereka sendiri, mereka belajar berdiri,” kata dia.

Ia menggambarkan bagaimana siswa mulai memahami arti proses dari menyiapkan bahan, mengelola produksi, hingga merasakan hasil dari usaha mereka sendiri. Di sana, bukan hanya ilmu yang tumbuh, tetapi juga rasa percaya diri dan harga diri.

“Kadang kita lupa, anak-anak ini butuh lebih dari sekadar pelajaran. Mereka butuh kesempatan untuk merasa mampu,” ujarnya.

Dalam konteks itulah, Saharjo menilai sektor peternakan menjadi salah satu peluang usaha nyata yang bisa dikembangkan siswa melalui ekosistem MBG. Kebutuhan daging dan susu yang terus meningkat membuka ruang besar bagi keterlibatan siswa dalam usaha produktif sejak dini.

“Peternakan bukan hanya soal memelihara hewan. Ini tentang membangun rantai ekonomi. Dari pakan, perawatan, hingga distribusi hasil, semuanya bisa menjadi ladang belajar dan usaha bagi siswa,” katanya.

Menurut dia, melalui unit peternakan di lingkungan sekolah, siswa dapat belajar langsung tentang manajemen usaha, perhitungan biaya, hingga potensi keuntungan. Selain itu, hasil peternakan juga dapat langsung mendukung kebutuhan dapur MBG.

“Ini siklus yang hidup. Anak-anak belajar, berusaha, sekaligus berkontribusi. Dari sini lahir kemandirian,” ujar Saharjo.

Dalam nada yang lebih dalam, ia juga mengajak semua pihak untuk menjaga cara pandang terhadap setiap kebijakan pemerintah. Ia percaya, di balik setiap kebijakan, selalu ada niat baik untuk masa depan bangsa.

“Kita boleh berbeda pendapat, tapi jangan kehilangan harapan. Berpikirlah positif. Karena dari pikiran yang baik, akan lahir langkah yang baik,” katanya.

Menurut dia, sikap itulah yang harus ditanamkan kepada siswa tidak mudah mengeluh, tidak mudah menyerah, dan selalu mampu melihat peluang di tengah keterbatasan.

Ia juga mengingatkan bahwa perjalanan membangun kemandirian tidak selalu mudah. Akan ada kegagalan, kelelahan, bahkan keraguan. Namun justru di situlah karakter ditempa.

“Banyak orang ingin sukses, tapi tidak semua siap jatuh. Di Abata, kami ajarkan anak-anak untuk kuat saat jatuh, bukan hanya bangga saat berdiri,” ujar Saharjo.

Di akhir pernyataannya, ia menegaskan bahwa tujuan pendidikan di Sekolah Abata Lombok bukan sekadar meluluskan siswa, tetapi menyiapkan mereka menghadapi kehidupan dengan hati yang tangguh.

“Kami tidak ingin hanya melahirkan pencari kerja. Kami ingin melahirkan pencipta kerja. Anak-anak yang bukan hanya hidup untuk dirinya sendiri, tapi juga memberi manfaat bagi orang lain,” kata dia.

Iklan Teks


Raih ketenangan dengan akses yang luas di Bank Muamalat
Jasa pegadaian berprinsip syariah Islam, kunjungi situs resmi Pegadaian Syariah
Memberikan yang terbaik sesuai kaidah Islam, kunjungi situs resmi BNI Syariah