HUT Amal Bhakti Kemenag Tingkat Provisni Dipusatkan di KLU
dibaca 1,421 kali
LOMBOK UTARA, lombokfm.com – Hari Ulang Tahun Amal Bhakti Kementerian Agama (Kemenang) ke 70 tingkat provisni, 3/1/16 dipusatkan di Kabupaten Lombok Utara digelar di lapangan Supersemar Tanjung.
Peringatakn Hari Amal Bhakti merupakan momentum penegakkan kembali komitmen seluruh jajaran dan keluarga besar Kementerian Agama untuk bekerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas.
Selain itu, juga untuk meningkatkan kualitas diri dengan sandaran utama pada nilai – nilai Integritas, profesionalitas, Inovasi, Tanggugjawab dan Keteladanan dengan tetap menjunjung tinggi sikap keikhlasan, dalam rangka mewujudkan tata kelola kepemerintahan yang baik.
Dalam acara tersebut bertindak sebagai inspektur upcara wakil gubernur NTB
H. Muh. Amin SH, M.Si. Tampak hadir anggota DPD Perwakilan NTB H. Suhaimi Ismi, Kepala Kemenag NTB, Pejabat Bupati KLU, Kepala Kemanag dari 10 Kabupaten/ Kota Se- NTB, kepala SKPD lingkup Pemprop.NTB, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Mahasiwa dan Pramuka.
Wagub NTB yang membacakan sambutan Menteri Agama RI mengaskan sesuai dengan tema peringatan ulang tahun Kementerian Agama ke-70 tahun 2015 yaitu: “Menegakkan Revolusi Mental untuk kementrian agama yang bersih dan menilai“.
Karenanya Kemenag mengajak seluruh jajaran Kementerian Agama agar senantiasa meningkatkan kinerja dan pelayanan kepada masyarakat dengan mengedepankan 5 (lima) nilai budaya kerja yang kita miliki. Nilai budaya kerja tidak hanya sekedar slogan, tapi harus benarbenar kita implementasikan sehingga membawa dampak bagi perubahan mental birokrasi dan mewarnai wajah organisasi Kementerian Agama secara keseluruhan.
Sebagai keluarga besar Kementerian Agama yang memiliki motto “Ikhlas Beramal” seyogyanya kita memainkan peran terdepan sebagai pelopor tegaknya kejujuran, ketulusan niat dan keikhlasan bekerja dalam aktivitas keseharian kita.
Dikatakan, birokrasi Kemenag harus siap menjalankan revolusi mental yang telah dicanangkan oleh kepala negara. Untuk itu perilaku dan budaya kerja yang tidak dikehendaki dan disukai masyarakat harus ditinggalkan.
Dalam melayani masyarakat, jangan sekali-kali mempersulit hal-hal yang seharusnya bisa dilakukan dengan mudah dan sederhana. Birokrasi yang baik dan ideal di era reformasi dan revolusi mental harus meninggalkan kultur ”bapakisme”, yaitu segala hal bergantung pada atasan tanpa memberi ruang bagi berkembangnya gagasan, inisiatif dan prakarsa inovatif dari bawahan. |004|003|











