Published On: Fri, Oct 9th, 2015

Usaha Madu Lebah, Menopang Ekonomi dan Menjaga Ekosistem

dibaca 916 kali
Share This
Tags

kotRADIO LOMBOK FM – Sepintas lalu kampung Dusun Belencong Desa Mumbulsari Kecamatan Bayan tidak ubahnya dengan kampung lainnya. Jauh dari pusat kota, yang pada saat kemarau kekeringan dan saat hujan turun tanahpun becek. Yang membedakan dusun ini dengan dusun lainnya adalah terlihat kotak-kotak kayu bergantungan di halaman rumah. Bagaikan hiasan lampion, tapi jangan salah, isinya bukan lampu. Kotak-kotak itu berisi koloni lebah madu.

Penduduk di dusun Belencong rata-rata berkerja sebagai petani dan buruh tani mengelola lahan tadah hujan. Tak heran bila tiba musim kemarau kebanyakan penduduk tidak memiliki aktifitas alias menganggur, Akibatanya banyak diantara penduduk mengadu nasip menjadi TKI atau TKW ke Malaysia dan Arab Saudi.

Agar warga sekitar memiliki aktifitas atau pekerjaan tetap, Sarifuddin (45) warga setempat, pada tahun 2006 mencoba sebuah usaha membudidayakan lebah di pekarangan rumahnya, dan ternyata pekerjaan ini cukup menghasilkan dan memiliki nilai tambah bagi perekonomian keluarganya.

Dengan keberhasilan uji coba ini, Sarifudin kemudian membuat sebuah kelompok tani madu lebah yang diberi nama Madusari I. Kelompok budi daya lebah ini lambat laun terus mengalami kemajuan. Buktinya, sejumlah anggota masyarakat sekitar bergabung menjadi anggota kelompok yang hingga saat ini sudah berjumlah 30 orang dengan jumlah stup 285 buah.

Setelah kelompok Madusari berhasil, kemudian pada tahun 2010 dibentuk lagi kelompok budi daya lebah khusus perempuan yang dikenal dengan kelompok Madusari II dengan jumlah anggota 25 orang.

Latar belakang dibentuknya dua kelompok budidaya lebah ini, menurut Sarifudin, karena mengingat sebelum tahun 2006, penduduk yang tinggal di Dusun Belencong rata-rata kehidupannya dibawah garis kemiskinan, karena hanya mengandalkan hasil ladang tadah hujan. Tak heran ketika anak-anak mereka yang sekolah minta dibelikan sepatu atau pakaian sekolah, kebanyakan orangtua mereka tidak mampu atau meminjam uang ke tetangga.

Tetapi setelah terbentuknya petani Madusari I dan II, hal itu tidak terjadi lagi, karena selain mengandalkan hasil ladang (oma) yang musiman, juga warga dapat menambah penghasilan melalui budidaya peternak madu lebah, yang bisa dipanen setiap bulan. Dan rata-rata hasil panen setiap bulan dari 30 anggota kelompok tersebut sekitar 60 botol madu, dan hasil ini belum lagi dtambah oleh kelompok Madusasri perempuan.

Sementara harga jual madu terus meningkat yakni berkisar Rp. 125-175 ribu per botol. “Kelompok Madusari ini melakukan panen raya sekali dalam tiga bulan yang hasilnya perstup bisa sampai 2 atau 3 botol atau sekitar 600 botel lebih. Dan pemasarannya pun tidak terlalu sulit, karena para pembeli seringkali memesan lebih dulu”, kata Sarfudin yang juga pengurus Posyantek Kecamatan Bayan ini.

Sementara ketua Pos Pelayanan Teknologi (Posyantek) Kecamatan Bayan, Sumadi, mengaku akan terus mendorong para petani budidaya madu lebah, karena khasiat madu itu sendiri cukup banyak bahkan ada yang menyebut obat dari berbagai macam penyakit.

“Kalau kita lihat apa yang dilakukan oleh kelompok Madusari ini cukup menjanjikan untuk menopang ekonomi masyarakat dan menjaga ekosistem alam yang perlu terus ditingkatkan. Dan pihak pengurus Posyantek sudah merencanakan akan membuat minuman kesehatan atau obat herbal yang diracik dengan berbagai bahan tumbuh-tumbuhan yang sangat mudah didapatkan di Kecamatan Bayan ini”, tandas Sumadi. |004|061|

Iklan Teks


Raih ketenangan dengan akses yang luas di Bank Muamalat
Jasa pegadaian berprinsip syariah Islam, kunjungi situs resmi Pegadaian Syariah
Memberikan yang terbaik sesuai kaidah Islam, kunjungi situs resmi BNI Syariah