Published On: Sat, Dec 26th, 2015

Tradisi Menutu Pare Dalam Maulid Adat

dibaca 1,181 kali
Share This
Tags

masyarakat adatLOMBOK UTARA, lombokfm.com– Puluhan ibu rumah tangga dan para gadis perempuan dan didamping para lelaki dengan mengenakan busana adat, siang Sabtu 26/12/15, tampak berdatangan dengan membawa padi bulu, hewan ternak dan perlengkapan lainnya masuk ke dalam kampu Karang Bajo dan ke rumah Kiyai Lebe.

Barang bawaan mereka tergantung nazar yang pernah diucapkan. Setelah padi bulu dikumpulkan, kemudian para perempuan adat memasukkannya di sebuah lesung ukuran besar yang disebut Rantok. Ditempat inilah padi bulu tersebut diolah menjadi beras yang dikenal dengan sebutan “Menutu Pare”.

menutu pareMenutu ini merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk menumbuk padi menjadi beras. Proses menutu ini di lakukan oleh kaum perempuan, dan di laksanakan setelah “Gugur Kembang Waru” atau sekitar jam 14.30 waktu setempat.

Alat-alat yang digunakan adalah alat menutu yang terbuat dari bambu dan lesung perahu (rantok) yang terbuat dari kayu. Kaum perempuan yang ikut dalam proses menutu harus menggunakan busana yang berbeda dengan yang lainnya, yaitu dengan menggunakan “Jong” (ikat kepala perempuan).

Setelah padi menjadi beras, kemudian kembali dikumpulkan ditempat Inan Menik untuk menunggu prosesi berikutnya yaitu bisok beras. Acara ini dilaksanakan pada pagi minggu 27/12/15 untuk dimasak sebagai hidangan seusai perosesi maulid adat.

Sementara disisi lain, beberapa kaum lelaki berangkat menebang babu tutul sebagai tanggul yang dipajang pada setiap pojok Masjid kuno Bayan. Proses pencarian tunggul ini di pimpin oleh seorang pemangku yang disebut “Melokaq Penguban”.

Proses ini dilakukan setelah mendapat perintah dari Inan Meniq yaitu dengan pemberian lekoq buaq (sirih dan pinang) oleh Inan Meniq kepada melokaq Penguban. Lekoq buaq ini merupakan suatu alat sebagai media  bertabiq kepada pohon bambu yang akan di tebang.Brata yasa

Pencarian tunggul ini di lakukan oleh lima orang, dimana empat orang sebagai pembawa tunggul yaitu dari keturunan penguban, pembekel, melokaq gantungan rombong, pande, dan satu orang dari kalangan masyarakat adat sebagai pembawa bambu ikat.

Terkait dengan prosesi maulid Adat, Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisa KLU, Brata Yasa  mengatakan, karena ini adalah sebuah prosesi adat, kita ingin kembali kepada ajaran yang benar dan harus terus dikembangkan dengan tidak meninggalkan sekecil apapun prosesi acara-acara atau tahapannya, sehingga kedepan proses ini menjadi lebih baik.

“Sekecil apapun prosesi-prosesi atau tahapan-tahapan nya jangan sampai ditinggalkan sehingga kedepan proses ini bisa lebih baik, guna menciptakan generasi muda yang lebih baik dan lebih berpotensi mengembangkan wisata budaya ini”, tandas Brata Yasa. |004|025|

      VOICE KABID PEMESARAN PARIWISATA KLU, BRATA YASA

Iklan Teks


Raih ketenangan dengan akses yang luas di Bank Muamalat
Jasa pegadaian berprinsip syariah Islam, kunjungi situs resmi Pegadaian Syariah
Memberikan yang terbaik sesuai kaidah Islam, kunjungi situs resmi BNI Syariah