Published On: Tue, Nov 3rd, 2015

Tradisi Membaca Hikayat Masih Lestari

dibaca 1,605 kali
Share This
Tags

hikLOMBOK TIMUR. lombokfm.com – Islam Suku Sasak telah mengenal tradisi Bekayat (membaca hikayat) sejak kerajaan Hindhu-Budha berkuasa sampai saat inipun tradisi ini masih lestari ditengah masyarakat.

Tradisi membaca hikayat dengan istilah bekayat yang secara bahasa berarti membaca dan berkisah. Selain itu sebagian warga menyebutnya dengan memaca.

Acara bekayat merupakan tradisi membaca kitab-kitab kuno berbahasa melayu diatas daun lontar atau kertas biasa pada acara-acara tertentu. Misalnya pada perayaan maulid nabi, tradisi sunatan, ngurisan, perkawinan hingga kematian.

Demikian yang disampaikan salah seorang pujangga bekayat, Amaq Nil seusai melantunkan hikayatnya selasa 02/11/2015,dia menuturkan “tradisi bekayat ini sejak lama dilakukan oleh masyarakat kita, seperti pada perayaan maulid, isroq miqraj, sunatan, perkawinan dan pada acara selamatan kematian” ujarnya saat mengahdiri undangan salah seorang warga Desa Ketangga,kecamatan Suela, Kabuapaten Lombok Timur kepada lombok fm, .

Dalam pembacaan pustaka kuno tersebut dibaca oleh seorang pembaca dengan alunan nada yang khas, dan diterjemahkan olah seorang lainnya dengan menggunakan bahasa sasak. Bercerita tentang perjalanan spiritual nabi, termasuk pula pesan-pesan kehidupan tentang bagaimana seharusnya manusia hidup bersama manusia lainnya.

Pelaksanaan bekayat dilakukan sejak malam hingga pagi hari dan tradisi ini sudah ada sejak kerajaan Hindhu berkuasa bahkan dahulunya tradisi ini dilakukan sebagai media dakwah penyebaran islam.

Dikatakan Amaq Nil, beberapa kitab yang biasanya dibaca adalah Hikayat Nur, Yatim Mustafa dan Badaruzzaman untuk acara ngurisan, Maulidan sunatan atau perkawinan.

Sedangkan Kitab Kifayatul Muhtaj dibaca saat Perayaan Isra’ Mi’raj (kisah naiknya Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Aqsho ke Sidratul Muntaha untuk menerima perintah Sholat).

Kitab Qurtubi Kasyful Gaibiyyah yang isinya seputar hakikat kematian serta bagaimana manusia seharusnya mati.

Sebagai ciri khas tradisi ini, pembaca hikayat dituntut menguasai teknik lantunan dan intonasi yang mendayu dayu.

Bekayat sebagian dari tradisi dan adat budaya, bekayat juga mengharuskan adanya kemalik beras kuning, air bunga, benang warna hitam dan putih yang ditaruh diatas wadah.

“maknanya, sebersih dan sesuci apapun manusia, pasti terdapat noda dan kesalahan dalam diri yang harus dibersihkan dengan mendekatkan diri kepada Tuhan” jelas Amaq Nil. |006|001|

      tradisi membaca hikayat masih lestari

Iklan Teks


Raih ketenangan dengan akses yang luas di Bank Muamalat
Jasa pegadaian berprinsip syariah Islam, kunjungi situs resmi Pegadaian Syariah
Memberikan yang terbaik sesuai kaidah Islam, kunjungi situs resmi BNI Syariah