Published On: Mon, Oct 19th, 2015

Sumur Majapahit Akan Dikembangkan Menjadi Wisata Budaya

dibaca 1,327 kali
Share This
Tags

sumur-majapahitLOMBOK UTARA, lombokfm.com – Kekayaan yang dimiliki Desa Sambik Elen Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara, tak habis-habis ditulis, karena semakin ditelusuri, maka semakin banyak ditemukan kekayaan yang terpendam dan memiliki situs sejarah yang mengagumkan.

Salah satunya adalah “sumur Majapahit” yang merupakan salah satu bukti sejarah Lombok pada zaman Hindu. Situs ini juga merupakan salah satu bukti bahwa Gajah Mada pernah melakukan ekpedisinya di bumi Lombok, dan merupakan peninggalan sejarah zaman penaklukan Majapahit terhadap kedatuan Bayan yang kini menjadi wilayah administratif Lombok Utara.

Konon, setelah Gajah Mada yang melakukan Ekpedisi Palapa-nya di bumi Bayan, kedatangan Gajah Mada beserta pasukannya diterima baik oleh Datu Bayan. Peristiwa itu yang kemudian membawa Kedatuan Bayan masuk sebagai salah satu daerah kekuasaan Kerajaan Nusantara (Majapahit). Dikisahkan bahwa setelah beberapa lama di Lombok, Gajah Mada bersama 5 orang pengikutnya disertai 2 orang perwakilan dari Kedatuan Bayan melakukan perburuan di sekitar hutan Gunung Rinjani yang ada di wilayah Bayan.

Perburuannya dimulai dari Pawang Bangket Bayan menuju ke arah selatan. Berhari-hari mereka menjelajahi hutan untuk mencari buron/menjangan, hingga tibalah mereka di wilayah selatan Hutan Kerajaan Bayan (sekarang: wilayah Hutan Adat Desa Sambik Elen). Konon di hutan itu, Gajah Mada dan pengikutnya merasa kehausan, mereka terus menyusuri hutan untuk mencari sumber mata air. Namun, tidak satupun mata air yang mereka temukan di belantara itu. Ahirnya mereka beristirahat di atas batu cadas yang cukup lapang dengan pohon-pohon rindang yang berjejer di sekitarnya.

Menurut informasi yang diberikan oleh beberapa orang informan, secara tidak sadar Gajah Mada dan kelompoknya menancapkan tombak mereka pada batu cadas itu saat hendak beristirahat. Setelah beberapa saat mereka beristirahat dan menyandarkan badan pada pepohonan yang ada di sekitar batu cadas itu, dengan kebingungan Gajah Mada beranjak dari tempat bersandarnya sebab rasa dahaga yang dirasakannya begitu menyiksa. Gajah Mada kemudian mengajak pengikutnya untuk melanjutkan perjalanan. Dan ketika Ia mencabut tombaknya, terjadilah suatu keajaiban. Batu cadas tempat tadi Ia menacapkan tombaknya tiba-tiba pecah menyerupai Yoni (lambang kesuburan/kemaluan wanita dalam kepercayaan Hindu) dan dari sela-sela batu itu mengalir air yang sangat jernih.

Melihat batu itu mengeluarkan air, Gajah Mada dan para pengikitnya kemudian minum sepuasnya. Setelah itu, 5 orang pengikit Gajah Mada dan 2 orang perwakilan dari Kedatuan Bayan juga mencabut tombaknya yang telah lama tertancap dan hal yang sama juga terjadi dari bekas tancapan tombak mereka. Lubang bekas tancapan tombak mereka menyerupai sumur-sumur kecil yang berisi ari bersih. Dengan demikian di atas batu cadas itu telah muncul 8 titik mata air, dimana mata air yang paling besar adalah bekas tancapan tombak Gajah Mada. Melihat hal tersebut, kemudian Gajah Madan mengajak pengikutnya untuk bermalam di sana, sebelum kembali ke Kedatuan Bayan.

Konon, di tempat itu juga ditemukan perkakas kuda dan tombak yang diperkirakan merupakan perkakas kuda dan tombak dari salah satu anggota pemburu dari Majapaih dan hingga saat ini perkakas kuda dan tombak itu masih disimpan di rumah Amaq Acut (Amaq Lokak Batu Santek Bawaq Desa Sambik Elen Kecamatan Bayan). Demikianlah segelumit sejarah kemunculan sumur yang hingga saat ini masih dianggap mistis oleh warga setempat.

Sumur Majapahit berada sekitar 4,5 km dari Kantor Desa Sambik Elen/Jalan Provinsi yang melintasi Desa Sambik Elen. Untuk mengunjungi sumur ini pengunjung bisa melalui pertigaan yang ada di sebelah timur Kantor Desa Sambik Elen dan bisa juga melalui pertigaan yang menuju Dusun Lenggorong Desa Sasmbik Elen Kecamatan Bayan.

Melihat potensi ini, kepala Desa Sambik Elen, Lalu Alwan Wijaya, kepada Lombok FM mengetakan, akan mengembangkan sumur Majapahit ini menjadi wisata budaya. Karena selain sumur, juga ditemukan beberapa makam disekitarnya yang diperkirakan makam Lebe Antassalam, yaitu salah seorang ulama penyebar agama Islam di Lombok.

“Desa ini memang kaya akan sumber daya alam dan obyek wisata budaya yang perlu kita kembangkan kedepan. Bahkan sudah ada beberapa investor yang masuk dan mengajak kerjasama untuk mengembangkan wisata alam dan budaya, seperti Sumur Majapahit ini, bahkan warga setempat siap berswadaya untuk membangun jalan”, kata Alwan.|004|083|

Iklan Teks


Raih ketenangan dengan akses yang luas di Bank Muamalat
Jasa pegadaian berprinsip syariah Islam, kunjungi situs resmi Pegadaian Syariah
Memberikan yang terbaik sesuai kaidah Islam, kunjungi situs resmi BNI Syariah