Published On: Fri, Jul 15th, 2016

Sembalun Gelar Ritual Adat Ngayu-Ayu

dibaca 838 kali
Share This
Tags

semRADIO LOMBOK FM, Lombok Timur – Kamis 14/07/2016 masyarakat Sembalun Bumbung Kabupaten Lombok Timur gelar Ritual Adat Ngayu-Ayu. Adapun lokasi yang dipulah terpusat dirumah sekretariat adat warga setempat.

Acara tersebut dilaksanakan dalam rangka memohon keselamatan dan upaya pelestarian alam serta sebagai wujud syukur atas nikmat Tuhan Yang Maha Esa. Kesempatan tersebut dihadiri langsung oleh, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Lotim, Kadis Kesehatan Lotim, dan sejumlah pejabat lainnya.

Adapun, hal lainnya pelaksanaan ritual adat Ngayu Ayu tujuannya memperingati perang antara iblis dengan waliyullah. Karena antara tanggal 15 – 25 Juli berlangsungnya perang tersebut sehingga konon katanya pelemparan terakhir dari pasukan waliyullah dengan ketupat iblis dikabarkan mati semua.

sementara, pelaksanaan ritual adat ini mulai sejak pukul 17:00 Wita yang dilanjutkan dengan pengambilan air di 12 mata air kemudian disemayamkan diberugak desa, dilanjutkan dengan pembacaan daun lontar. Pada hari Kamis kemarin proses pelaksanaan adat ngayu-ayu yakni proses nyenyampang (pemberian terhadap leluhur) pukul 07:00 Wita.

Hingga pukul, 11:00 Wita dilakukan pemotongan kerbau di Balai Desa Bumbung. Setelah pemotongan kerbau, pada pukul, 12:30 Wita, air dari 12 mata air yang sudah dipersiapkan kembali diarak dari berugak desa menuju berugak reban bande sebanyak 7 kali dan dilanjutkan dengan acara mafakin (pertemuan penyambut dengan disambut) yang dilakukan oleh tokoh adat. Sebagai acara penutupan, dilakukan perang pejer sekaligus pembuangan air dari12 mata air di Sungai Bale Ijo. “Pengambilan air karena air  sangat dimuliakan, karena merupakan sumber kehidupan dan ada ritual khususnya,”ungkapnya.

Beberapa nama mata air yang menjadi lokasi pengambilan air yang dijadikan sesaji dalam ritual adat itu, diantaranya, Timba Bau, Air Perigi dan lainnya hingga pengambilan air terakhir dilakukan di timba air Majapahit.

Dimana, katanya, pengambilan air di 12 mata air tersebut  sudah turun temurun dari leluhur dan juga diyakini sebagai pengambilan mata air untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Sementara, pengorbanan hewan kerbau untuk penyelamat bumi yang kemudian dagingnya dimasak untuk masyarakat setempat. “Kalau kepalanya ditanam sebagai penyelamat bumi,”tutupnya. |002|016|

 

Iklan Teks


Raih ketenangan dengan akses yang luas di Bank Muamalat
Jasa pegadaian berprinsip syariah Islam, kunjungi situs resmi Pegadaian Syariah
Memberikan yang terbaik sesuai kaidah Islam, kunjungi situs resmi BNI Syariah