Published On: Thu, Nov 8th, 2018

Revolusi Organik Bisa Jadi Daya Lejit Pertanian Nasional

dibaca 322 kali
Share This
Tags
RADIO LOMBOK FM, Mataram-Indonesia dengan rangkaian kepulauan Nusantara memiliki banyak potensi di sektor pertanian, baik di
subsektor tanaman pangan, hortikultura, peternakan, dan juga
perikanan.

Namun, modal alamiah yang terletak di bawah garis khatulistiwa, belum juga
membuat bangsa ini bisa meraih swasembada pangan secara utuh. Sejumlah
komoditas yang sejatinya bisa dihasilkan melimpah di negeri ini,
justru masih terjadi impor dari negara lain.

“Ini yang jadi ironi. Kita ini negara yang sangat potensial di sektor pertanian, tapi justru
masih banyak impor dari luar negeri. Padahal seharusnya
kita berupaya agar bisa ekspor, karena kita punya keunggulan
kompetitif di sektor pertanian ini,” kata Ketua Badan Pengawas dan Disiplin ( BPD) Partai Gerindra, H
Bambang Kristiono (HBK) di Mataram, Selasa ( 6/11)

Ia mengatakan, salah satu solusi tercepat untuk membangkitkan kembali potensi
pertanian yang seolah “tertidur” ini adalah dengan melakukan revolusi
pertanian organik.

Sebab, salah satu kendala produk pertanian Indonesia sulit menembus
pasar mancanegara disebabkan oleh kualitas mutu produk pertanian yang masih rendah dan
sarat dengan endapan residu kimia dari pupuk, pestisida, fungisida,
dan insektisida yang selama ini digunakan para petani.

Ia mencontohkan, komoditas kopi di Lombok memiliki keunggulan
tersendiri baik varian Robusta, Arabica, maupun Liberica. Namun,
produk unggulan ini pada kenyataannya masih sulit menembus ekspor, karena kualitas mutunya yang
masih dibawah ambang standar negara-negara maju.

“Kita tidak mungkin bisa ekspor ke luar negeri kalau produk
komoditi kita masih terpapar residu kimia. Apalagi standar
negara-negara maju untuk komoditas yang dikonsumsi masyarakatnya itu sangatlah
tinggi, karena mereka sangat peduli dengan kesehatan masyarakatnya.
Jadi, solusinya adalah, pertanian organik harus digalakan secara masif di negri ini,” kata HBK.

Menurut HBK, pertanian organik juga bisa menjadi nilai tambah bagi
para petani dalam hal efisiensi biaya produksi. Selain itu, pola
organik dalam jangka panjang juga bermanfaat untuk mengembalikan
tingkat kejenuhan lahan akibat dampak penggunaan pupuk kimia.

“Ini juga bagian dari rehabilitasi lahan karena sudah jenuh akibat
pupuk kimia. Maka perlu revolusi organik agar kembali produktif
lahannya. Baik lahan pertanian, pertambakan, perikanan dan pantai,”
katanya.

HBK juga menilai saat ini belum ada upaya yang serius memulai pertanian organik secara massal. Pemerintah terkesan setengah hati mendorong pertanian organik yang terbukti
menjadi daya ungkit peningkatan kesejahteraan kaum tani ini.

“Kalau serius, mungkin semua (petani) sudah pakai mesin dan alat
pengolahan, sehingga satu Desa atau Kecamatan itu tak perlu pupuk dan
obat-obatan kimia dari luar. Ya, sifatnya pendukunglah bukan yang utama
kalau diperlukan,” katanya.

Caleg DPR RI dari Partai Gerindra ini mengajak generasi muda dan kaum
millenial di Lombok untuk menjadi pioner penggerak revolusi pertanian
organik di wilayahnya, yang di kemudian hari bisa menjadi
contoh bagi daerah lainnya di Indonesia.

Ia menegaskan, ke depan kebutuhan-kebutuhan kongkrit untuk mewujudkan
hal tersebut akan diperjuangkan melalui kewenangan legislasi dan
anggaran melalui DPR RI nantinya.

“Hal ini harus mulai kita lakukan. Mari generasi muda Lombok, kita
bangkitkan semangat revolusi pertanian ini. Dari Lombok, kita berbuat
untuk Indonesia tercinta. Dan in shaa Allah, kita bisa,” ajaknya. (07/012)

 

Iklan Teks


Raih ketenangan dengan akses yang luas di Bank Muamalat
Jasa pegadaian berprinsip syariah Islam, kunjungi situs resmi Pegadaian Syariah
Memberikan yang terbaik sesuai kaidah Islam, kunjungi situs resmi BNI Syariah