Published On: Wed, Oct 14th, 2015

Ponpes Nurul Bayan Eksis Tingkatkan SDM Berakhlak Mulia

dibaca 1,254 kali
Share This
Tags

Ponpes-Nurul-Bayan-Telaga-BTANJUNG, Lombok FM – Pesantren merupakan pelopor dari pendidikan Islam di Indonesia yang didirikan karena adanya tuntutan dan kebutuhan zaman. Hal ini dapat dilihat dari perjalanan sejarah yang bila dirunut kembali, bahwa sesungguhnya pesantren dilahirkan atas dasar kesadaran kewajiban dakwah Islamiyah, sekaligus mencetak kader-kader ulama dan da’I untuk mencetak manusia berakhlakul karimah (berakhlak mulia).

Akan halnya Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Bayan yang didirikan di Dusun Telagak Begek Desa Anyar Kecamatan Bayan oleh seorang ulama muda, TGH. Abdul Karim Abdul Ghafur pada 9 November 1991. Ponpes yang bergerak dibidang pendidikan formal dan non formal  merupakan lembaga pendidikan keagamaan dan sosial kemasyarakatan yang akte notaris pendiriannya bernomor:  40 dan disahkan pada hari jum’at tanggal 19 November tahun 1993.

Menurut KH Abdul Karim dalam buku materi kepondok pesantrenan disebutkan, pada akhir bulan September 1991, datang seorang ibu dengan anaknya yang masih duduk dikelas II SD menyerahkan putranya utuk diajar dan dibina membaca Al-Qu’an (ngaji). Permohonan tersebut tentu saja disambut gembira oleh KH. Abdul Karim, kendati pada saat itu belum ada satu alat peragapun tersedia sebagai alat sarana fisik. Dan sejak saat itu pula, semakin hari jumlah anak belajar mengaji terus bertambah hingga 12 orang.

Melihat perkembangan lembaga  pendidikan perdana yang semula berlangsung di Desa Sukadana Kecamatan Bayan awal Oktober 1991 ini, beberapa anggota masyarakat setempat mendatangi sang kiyai untuk menanyakan kesiapannya membina anak-anak yang terdiri dari siswa SD dan SMP. Dan setelah sang kiyai menyanggupinya, maka didirikan lembaga pendidikan diniyah dengan memamfaatkan sebuah ruang tamu berukuran 5X3 meter sebagai tempat tinggal kiyai muda alumni Bagdad ini, serta masjid setemat dijadikan sebagai tempat belajar mengajar.

Namun seiring dengan perkmbangan zaman, lambat laun, diniyah tersebut sudah tidak bisa lagi menampung santri yang datang belajar karena jumlahnya semakin banyak. Melihat hal tersebut, maka didirikanlah kelas darurat yang berukuran 7 X 3 meter dengan tiang kayu bantenan, beratap daun kelapa dan berlantai tanah.

Kendati kondisi bangunannya memprihatinkan, namun santri yang belajar terus bertambah, membuat KH. Abdul Karim mendirikan Ponpes yang kemudian dikenal dengan nama Ponpes Nurul Bayan. “Ponpes ini kita dirikan bermodalkan do’a dan mujahadah serta keberanian untuk berbuat demi syiar Islam, dan Alhamdulillah mulai tanggal 9 November 1991 secara resmi ponpes ini berdiri dengan nama sekolah Tarbiyatul Mu’allimin Wal- Muallimat Al-Islamiyah”, katanya.

Tujuh bulan setelah berdiri, tepatnya akhir Mei 1992, atau setelah penerimaaan siswa tahun ajaran baru, diniyah inipun dipindah ke lokasi baru dari desa Sukadana ke Desa Anyar dengan membangun gedung semi permanen dengan nama Al-Muhsinin. Dan sejak saat itulah lokasi itu dijadikan sebagai kampus induk Ponpes Nurul Bayan hingga sekarang.

Kehidupan dalam Ponpes Nurul Bayan dijiawai oleh panca jiwa pondok yaitu, jiwa keihlasan, artinya segala sesuatu yang dilakukan harus betul-betul karena Allah, bukan karena didorong untuk memperolah keuntungan tertentu. Dan hal ini sesuai dengan kata-kata sepi ing pamrih rame ing gawe. Ihlas semacam inilah yang menghiasi suasana kehidupan sehari-hari Ponpes Nurul Bayan.

Selain jiwa keihlasan, juga ditumbuhkan jiwa kesederhanaan baik bagi guru ataupun santrinya, yaitu mendayagunakan sesuatu yang ada tanpa menunggu sesuatu dari luar. Dan sederhana yang diterapkan Ponpes yang memiliki 300 santri lebih  ini bukan berarti Ponpes ini miskin, pasif atau statis, akan tetapi kesedrhanaan yang mengandung unsur-unsur kekuatan, penguasaan diri dan ketabahan hati dalam menghadapi  berbagai kesulitan.

Ponpes Nurul Bayan juga mencetak para santrinya untuk berjiwa yang siap dan sanggup menolong diri sendiri (berdikari) dalam arti menumbukkan sikap percaya diri tanpa terlalu menunggu bantuan orang lain. Jiwa seperti ini menumbuhkan sikap saling tolong menolong dan membantu sesama. Jiwa lainnya yang ditanamkan kepada para santrinya adalah jiwa ukhuwah Islamiyah, artinya dalam dunia pesantren selalu diliputi oleh suasana persaudaraan  yang akrab dalam jalinan perasaan keagamaan yang kuat dan kokoh antara para santri sendiri dan antar para santri dengan guru dan kiyai.

Selain itu, jiwa yang ditanamkan juga jiwa bebas dalam arti bebas bukan dalam pengertian yang negatif, tetapi bebas dalam batas-batas  disiplin yang positif atas dasar kesadaran dan tanggungjawab, baik ketika berada didalam pondok ataupun setelah mereka terjun ke masyarakat. 004/065

Iklan Teks


Raih ketenangan dengan akses yang luas di Bank Muamalat
Jasa pegadaian berprinsip syariah Islam, kunjungi situs resmi Pegadaian Syariah
Memberikan yang terbaik sesuai kaidah Islam, kunjungi situs resmi BNI Syariah