Published On: Thu, Oct 8th, 2015

Mengenal Seni Tradisional Suling Dewa Adat Bayan

dibaca 1,668 kali
Share This
Tags

adatRADIO LOMBOK FM – Penari suling dewa mengiringi pencucian pusaka Bayan,Suling Dewa merupakan sebuah kesenian tradisional yang masih tetap dilestarikan oleh komunitas adat yang ada di Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara. Seni tradisional ini biasanya dilakukan pada acara selamatan atau syukuran pembersihan beda-benda kuno bersejarah peninggalan Datu Bayan atau para leluhur.

Pelaksanaan ritual mencuci benda-benda pusaka atau dikenal dengan “ngasah ngaponin” biasanya dilaksanakan pada hari jum’at yang diiringi dengan suling dewa selama 24 jam. Beberapa sumber menyebutkan, konon pada zaman dahulu belum ada jenis hiburan untuk masyarakat, sehingga digelar suling dewa yang tujuannya untuk mengumpulkan warga setempat guna memberitahukan kepada komunitas sekitar akan adanya pelaksanaan budaya ritual adat.

Suling dewa ini masih tetap dilestarikan oleh generasi penerus yang ada di Kecamatan Bayan, sebagai seni budaya tradisional yang penuh filosofis dan makna bagi kehidupan umat manusia.

Pembuatan suling dewa ini harus dilakukan oleh para toak turun (jero gamel).
Sebelum membuat suling dewa, terlebih dahulu dilakukan pencarian pohon bambu (bilok) yang memiliki lubang panjang dengan ukuran sekitar 1 meter. Setelah bilok itu ditebang, lalu dijemur selama satu minggu agar betul-betul kering. Kemudian bilok yang sudah kering dibuatkan enam lubang kecil dibagian bawah, dan sebuah lubang dibagian atas.

Dalam membunyikan suling dewa harus sesuai dengan gending (lagu) antara lain, gending suling lembuning meloang, gending suling gendongan, dan gending suling buak lokak (pantun jenaka). Proses pelaksanaan suling dewa atau dikenal dengan sebutan “mendewa” ini dilaksanakan sehari semalam yaitu mulai hari kamis malam jum’at,sekitar pukul 18.00 wita.

Sebelum acara mendewa dimulai, terlebih dahulu diawali dengan acara ritual Penabe’ (mohon ijin pada penunggu gubug), yang dilakukan oleh, Inimaki, Jero Gamel, Inan Gending dan tuan rumah, Penabe’ ini dilakukan di sebuah amben beleq (semodel dipan besar-red), selama satu jam, barulah jero gamel, inan gending keluar menuju sebuah tempat yang sudah disiapkan.

Di tempat ini, biasanya tuan rumah (pembuka pelandangan) minta ijin kepada Inimaki untuk menari (mentandang) yang kemudian diikuti oleh penari laki dan perempuan di halaman rumah (bale beleq).

Para penari dalam acara mendewa biasanya akan dirasuki mahluk gaib. Hal ini ditandai dengan tubuhnya yang menggigil (bergetar) seperti orang kesurupan sambil meminta makanan yang aneh, seperti bunga (kembang sandat), menghirup asap kemenyan, makan bunga mayang (pinang) dan bubur merah.

Anehnya, pada saat kesurupan, mereka dapat menjelaskan atau memberi jawaban obat orang sakit yang bertahun-tahun. Dan para penari kesurupan ini tau juga penyebab orang atau keluarganya yang sakit sekaligus cara pengeboatannya.

Sementara pada siang Jum’at sekitar pukul 12.00, digelar acara ritual yang disebut Ajian Dalem, yaitu membersihkan benda bersejarah seperti, keris, kelewang dan tombak yang dilakukan diatas berugaq saka enam. Pembersihan benda pusaka (ngasah ngaponin) ini menggunakan air jeruk nipis oleh para penganggok adat (toak turun) yang terdiri dari Maq lokak Pandai, Mak Lokak Walin Gumi, Pembekal dan lain-lain.

Acara ini diiringi dengan Gending Suling Dewa Baodaya hingga pukul 14.00 wita. Dan sekitar jam 16.00 wita dilanjutkan dengan acara periapan (masakan yang dihidangkan) pada Ajian Dalem yang diisi dengan acara selamatan yang dipimpin oleh kiyai santri dan diikuti pembekel dan para toak lokaq yang ada diatas berugak.

Peralatan Pendukung pada acara Ajian Dalem mendewa biasanya lekok buak (daun sirih, pinang dan tembakau ), kembang sandat, kembang serikaya, buah jeliman, dupa ( Kemenyan ), beras benang ( beras 3 kg, benang setukel, lekok buak dan uang bolong), jojor lilit ( lampu penerang yang terbuat dari jarak dan kapas ), lesung ( tempat menutu jojor lilit) dan cerek ( Kocor yang terbuat dari tanah liat ), tabaq ( tempat menaruh daun sirih, pinang dan tembakau ), Sampak ( tempat menaruh piring pada acara periapan/ selametan), Keris, Kelewang dan Tombak (Benda bersejarah).

Acara prosesi suling dewa ini berakir pada pukul 18.00 wita, yang ditandai dengan prosesi penutupan yang disebut Amit-Amintan oleh para pelaku suling dewa seperi Jero Gamel, Inan Gending dan penari lainnya bersalam-salaman untuk kembali ke rumahnya masing-masing. |004|053|

Foto Lombokfm Radioku.
Foto Lombokfm Radioku.
Foto Lombokfm Radioku.

Iklan Teks


Raih ketenangan dengan akses yang luas di Bank Muamalat
Jasa pegadaian berprinsip syariah Islam, kunjungi situs resmi Pegadaian Syariah
Memberikan yang terbaik sesuai kaidah Islam, kunjungi situs resmi BNI Syariah