Published On: Sat, Oct 10th, 2015

Lombok Utara Termasuk Daerah Rawan Bencana

dibaca 1,644 kali
Share This
Tags

apRADIO LOMBOK FM – Kabupaten Lombok Utara (KLU) sebagai salah satu daerah otonomi baru yang notabenenya terpetakan sebagai daerah yang rawan bencana alam seperti banjir dan longsor, karena memiliki ketinggian atau kondisi tanah diatas 60 persen atau antara 35 hingga 85 persen yang termasuk kawasan terjal dan berbukit. Sehingga diperlukan kewaspadaan atau kebersamaan dalam menyatukan persepsi untuk menjaga dan melestarikan lingkungan hidup.

Kabupaten Lombok Utara, yang memiliki motto Tiok – Tata – Tunaq ini meliputi 5 kecamatan, 33 desa, 322 dusun, dikepung ancaman bencana alam. Bentang alam lima kecamatan di KLU bak ”setengah wajah” di belakang daratan yang sedikit,lereng perbukitan dan hutan,sementara di depannya adalah laut.

Direktur Konsultan NTB Sulistiyono mengatakan, gejala ini dampak dari perubahan iklim global selama 10 tahun terakhir di NTB,Khususnya di KLU seringkali terjadi banjir dan longsor, seperti yang masih segar di ingatan kita kejadian longsor di awal tahun 2009 lalu, yang terjadi di Desa Bentek, Jenggala dan Gengelang dimana saat itu sungai Segara meluap, dan banjir bandang serta longsor di kawasan hutan Pandan Mas telah menelan kerugian rumah, ternak , jalan, jembatan dan irigasi rusak.

”Disamping banjir dan longsor, ancaman bencana lainnya berupa kekeringan pada musim kemarau yang seringkali dialami wilayah Kecamatan Bayan sehingga terjadi rawan pangan. Demikian juga dengan gunung Rinjani sebagai gunung berapi yang masih aktif dapat saja meletus sewaktu-waktu”, ungkap Sulistiono.

Sulistiyono mengatakan, “mengingat kalangan masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana merupakan pihak yang akan mengalami dampak dari bencana tersebut, maka upaya penanggulangan harus berbasis masyarakat, “Artinya masyarakatlah yang menjadi aktor utama dalam melakukan identifikasi resiko bencana, penyusunan rencana serta pelaksanaan rencana tersebut”, tegasnya.

Sementara itu Kepala Desa Gondang Jauhari mengatakan, bencana terjadi karena banyaknya lingkungan hutan yang di rusak oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab,Akibatnya banyak hutan yang gundul yang sewaktu-waktu dapat menimbulkan bencana, entah itu longsor, banjir bandang atau bencana kekeringan.

Jauhari berharap kepada masyarakat dan petugas yang berwenang untuk saling bahu-membahu menjaga hutan di KLU. “Jangan dengan alasan tidak ada sumber penghidupan, lalu hutan dibiarkan di gunduli, toh juga kita yang akan menanggung resikonya,” tegasnya.

Dari data di provinsi Nusa tenggara Barat,luas lahan KLU, 80.942 ha. Dan luasnya cukup signifikan,potensi inilah yang harus diselamatkan,Dari jumlah ini terdapat sekitar 384 hektar masuk ke lahan sangat kritis dan 5.760 hektar masuk kategori kawasan lahan kering.

Berkaitan dengan peran media dalam melakukan sosialisasi dan membangun pemahaman dan kepedulian masyarakat terhadap bahaya dan kemungkinan terjadinya bencana, menurut pendapat Muhyin dari Lembaga Masyarakat Nelayan Lombok Utara (LMNLU), media adalah sebagai penyambung lidah Pemerintah dalam menyampaikan kebijakan-kebijakan yang akan diterapkan terkait masalah penanggulangan bencana.

“Mencermati geliat media di NTB khususnya di Lombok Utara, diperlukan suatu komitmen dari media untuk terus mengawal dan memberikan informasi terkait program-program kebencanaan, baik pra bencana, saat terjadi, serta pasca bencana. Khusus untuk wilayah KLU, topografi dan geografis pegunungan merupakan faktor yang menjadikan wilayah ini memiliki kerentanan tinggi terhadap bencana”,tandas Muhyin.|004|041|

Iklan Teks


Raih ketenangan dengan akses yang luas di Bank Muamalat
Jasa pegadaian berprinsip syariah Islam, kunjungi situs resmi Pegadaian Syariah
Memberikan yang terbaik sesuai kaidah Islam, kunjungi situs resmi BNI Syariah