Published On: Fri, Jul 17th, 2015

Ketak Beleke Dijual Mahal di Bali, Diminati Warga Jepang dan Korea.

dibaca 1,368 kali
Share This
Tags
KETAKRADIO LOMBOK FM – Kecamatan Praya Timur, patut berbangga karena memiliki Desa Beleke. Desa tersebut merupakan Pioner penghasil anyaman ketak di kabupaten Lombok tengah yang dimulai sejak sekitar tahun 1978 silam. Hasil kerajinan masyarakat Desa Beleke, dipasarkan di dalam negeri hingga manca negara.

Sampai saat ini , desa Beleke menjadi Salah satu desa pusat anyaman ketak di kabupaten lombok tengah. Lebih dari 250 Kepala Keluarga (kk) sejumlah dusun seperti dusun Beleke Timuk, Dusun Sejagad, Dusun Kokoh, dan Dusun Kebon Galuh, telah menjadikan anyaman ketak sebagai mata pencaharian utama.

Seorang pengerajin ketak Desa Beleke, Inak Leni (26) menuturkan, kerajinan ketak yang ditekuninya saat ini merupakan warisan sang ibu. Berbagai desain anyaman ketak seperti kotak tissue , pot bunga, tepat lampu hias, dan sejumlah motif lainya dibuat secara teliti sesuai desain dan ukuran yang diminati para pembeli. “Kalau saya dapat ilmu menganyam ini dari ibu,”katanya pada Minggu (12/7)2015.

Sementara pengerajin ketak lainya ,Idha (19)warga setempat, mengatakan sudah cukup lama menggeluti kerajinan ketak. Kerajinan ini juga yang membuatnya sering diajak sejumlah rekan kerja ke Provinis Bali yang merupakan Muara persinggahan kerajinan ketak desa Beleke.”Ya karena usaha ini, saya jadi sering ke bali terkait pemasaran,”ungkapnya bangga.

Idha lebih lanjut, menceritakan pengalamanya ketika berkunjung ke sejumlah Artshop dan Pasar Seni di Bali beberapa waktu lalu. Diceritakan, sebagian besar kerajinan ketak yang dibuat masyarakat Desa Beleke sangat diminiati warga negara Jepang dan Korea yang berkunjung ke Bali. ’’Sebagaian besar ketak asal Beleke telah diberi label Made In Bali, ketak itu begitu diminati warga Jepang dan Korea.’’ujarnya.

Disatu sisi, Idha merasa bangga hasil kerajinan buatanya diminati warga asing, namun di satu sisi ia juga merasa miris ketika karyanya tidak diakui sebagai buatan warga Beleke.Perasaan itu juga bertambah ketika mengetahui harga ketak Beleke dijual kepada para wisatawan dengan harga cukup pantastis. “Untuk tempat tissue yang harganya 35 ribu dijual dengan harga Rp 100.000 hingga Rp 250.000,”imbuhnya.

Keperihatinan ini juga yang membuat Idha sangat berharap kepada pemerintah, untuk memberikan solusi sistem pemasaran yang nantinya dapat memberikan kemajuan dan penghasilan lebih banyak atas karya kerajina ketak yang dihasilkan masyarakat desa Beleke.”Itulah harapan kami, bagaimana hasil kerajinan kami dipatenkan,”pungkasnya.|001|0025

 

 

Iklan Teks


Raih ketenangan dengan akses yang luas di Bank Muamalat
Jasa pegadaian berprinsip syariah Islam, kunjungi situs resmi Pegadaian Syariah
Memberikan yang terbaik sesuai kaidah Islam, kunjungi situs resmi BNI Syariah