Published On: Wed, Jun 8th, 2016

Hasil Diskusi Rutin Bale Bajang DPD KNPI Loteng : Tata Kelola Air Belum Mampu Penuhi Kebutuhan Air

dibaca 838 kali
Share This
Tags

diskusiRADIO LOMBOK FM, Lombok Tengah – Tata kelola air untuk hajat hidup orang banyak. Itulah tema acara Diskusi Rutin Bale Bajang Dan Aspirasi Untuk Daerah, Kamis (2/6/2016) lalu yang disiarkan secara langsung dari Sekretariat DPD KNPI Lombok Tengah, Bale Bajang. Dalam diskusi yang dihadiri tokoh pemuda, tokoh masyarakat, aktivis dan sejumlah pejabat  tersebut, terungkap kalau pengelolaan air di Lombok Tengah belum sesuai dengan harapan.

Salah seorang peserta diskusi yang jauh-jauh datang dari Desa Semonyang Praya Timur, Munirim menyampaikan tentang ketidak sesuaian antara ketersediaan air yang dikelola Perusahaan Air Minum dengan air bersih yang sampai ke masyarakat. “ Saya mempertanyakan PDAM yang memiliki stok air bersih 900 liter per detik dengan 45000 sambungan rumah, apa sudah terpenuhi,”Katanya sembari mempertanyakan soal adanya surplus air, padahal ada pemasangan baru yang airnya hanya ngalir 2 minggu saja.

Salah seorang pemuda asal Desa Bilelando Praya Timur, Bagus Karya meminta agar pihak terkait berdayakan potensi diutara untuk memaksimalkan pasokan air untuk kebutuhan masyarakat Lombok Tengah. Ia menilai kalau saat ini, berbagai potensi belum dikelola secara maksimal.”Makanya kita saat ini terus saja kekurangan air. Kita panen gagal total akibat kekurangan air ini, salah satu yang ditawarkan dengan sumur bor dan itupun masih kurang,”Ungkapnya.

Adapun tokoh muda lainya, M.Bakri asal Desa Sengkerang Praya Timur mengungkapkan, kalau air PDAM kerap macet. Namun salut dengan usaha yang dilakukan PDAM untuk atasi hal itu dengan droping air dengan mobil tangki. “Sukurlah ada mobil tangki yang melakukan droping sampai dengan 200 liter pertangki saat hari jumat dimasjid dan juga hari hari lainya,”Ujarnya.

Kepada pihak dinas terkait, soal irigasi juga jadi masalah. Hingga saat ini disebutkan M.Bakri, kalau petani belum pernah cukup dengan air apalagi saat musim tanam ke dua. Banyak warga yang bertikai karena merebut air dan airnya datang jam 4 pagi. “Pada musim tanam tembakau kita beli air 500 ribu per hektar, pompa air belum maksimal karena terkendala bensin. BWS berikan sumur bor, dengan 25 per detik namun terkendala bensin, kerusakan dan lainya,”Imbuhnya.

Kades Aik Berik Kecamatan Batukliang Utara, Muslehudin menyampaikan motto yang selalu digaungkan dalam pelestarian lingkungan didesanya. Yakni,  memuliakan warisan bumi, memuliakan masyarakat, hutan lestari masyarakat sejahtera. Namun hal itu menurutnya, terkadang tidak sesuai dengan program dan kegiatan yang dilaksnakan.”Dan kita ketahui, hamper seluruh kebutuhan air warga Lombok Tengah ini berasal dari wilayah utara,”Tandasnya.

Pada diskusi yang digelar setiap hari kamis pada minggu pertama dan kedua setiap bulanya itu, Kades Aik Berik menuturkan tentang perubahan alam dan suhu yang terjadi didesanya itu. Kalau dulu, sekitar jam 8 pagi, warga masih sangat merasakan dingin yang luar biasa bila keluar rumah. Namun sekarang, justeru warga sudah berkeringat.”Perubahan cuaca yang signifikan ini, bisa jadi penyebab yang juga pengaruhi sumber mata air kita,”Tukasnya.

Apalagi sejumlah sumber mata air yang ada diwilayahnya lanjut Kades Aik  Berik ini, rata-rata bersumber dari air permukaan. Antara lain seperti, mata air Embulan Salak , Embulan Goak, Embulan Gunung Wakul yang bersumber dari Air Terjun Benang Stokel yang hasilkan 450 liter air per detik. “Hanya Benang Kelambu yang airnya bersumber dari dari perut bumi yang debitnya tidak berubah yakni 400 liter per detik. Sementara mata air Tembing Kekek hanya hasilkan air 200 liter per detik begitu juga yang lainya,”Jelasnya sembari menambahkan, kalau dikelola dengan baik lanjut Kades Aik Berik,  masih ada cadangan air yang cukup besar. Namanya Kokoh Lobang yang berada pada ketinggian sekitar 1600 Mdpl.

Hal yang bisa dipastikan sebagai penyebab terjadinya pengurangan debit mata air tandas Kades, yakni kondisi hutan yang saat ini sudah mulai gundul.  Sekitar 820 hektar hutan kemasyarakatan, 250 hektar hutan tegakan, kondisinya sudah banyak yang tak memiliki pohon serapan air. “Daun mahoni lambat diurai, ini yang menghmbat serapan air. Lebih-lebih yang selalu disoroti soal illegal loging yang marak,”terangnya.

Bicara soal irigasi kata Kades Aik Berik, ada solusi yang bisa dilakukan oleh pemerintah. Yakni dengan memperbaiki Bendungan Jurang Jempong yang dulunya dibuat secara traditional dengan hanya beronjongan kayu-kayu. “Sekarang sudah rusak akibat diterjang banjir beberapa tahun silam,”Tuturnya.

Namun, apa yang terjadi saat ini seperti gagal panen, tidak melulu disebabkan oleh kurangnya air. Bila masyarakat patuh terhadap aturan pola musim tanam, maka seringnya gagal panen diyakini tidak akan terjadi. “Saat ini masyarakat wilayah utara itu, setiap musim menananam padi terus. Tanpa pedulikan musim tanam seperti yang dianjurkan pemerintah,”Pungkas Kades Aik Berik, Muslehudin.

Kades Aik Bukak, H.L.Gita Esku, juga menyampaikan catatanya soal mata air Lombok Tengah yang saat ini terus berkurang. Ia menyebutkan, pada tahun 1997 mata air masih 39 titik, dicek tahun 2015 tinggal 11 titik mata air, dan itupun banyak yang sudah tinggal nunggu waktu mati dan yang optimal hanya tinggal 7 titik.” Salah satu sebabnya,  pengaruh illegal logil. Dimana 90 persen hutan habis ditebang. Pernah nangkap pelaku, tetapi humunya ringan. Malah kita yang jadi saksi, ikut-ikutan akan jadi tersangka,”Katanya.

Kades Aik Berik punya solusi soal gundulnya hutan tersebut. Dengan berdayakan masyarakat pada Hutan Kemasyarakatan. Diketahui, masing-masing pengelola hutan kemasyarakatan, mengelola sampai 3 hektar, tidak bayar pajak namun tak mau menanam pohon. “Buat perda atau perbup soal pengguna hutan kemasyarakatan ini, agar diwajibkan menanam pohon hingga besar. Kalau tidak mau, cabut ijinya dan berikan kepada yang mau. Aturan ini benar-benar akan saya dorong,”Tegasnya.

Untuk  Bidang Pengairan Dinas PU-ESDM, L.Gita Esku berharap agar memberikan  jadwal air pada musim tanam ke  2 yang selalu saja Aik Bukak tak dapat jatah air. Hanya dapat seminggu sebulan dan sisanya dibawa keselatan. Untuk irigasi , ia berharap jangan hanya hilir saja yang diperhatikan, namun hulu juga diperlakukan yang semestinya.

Selain para tokoh tersebut, aktifis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) juga ikut angkat bicara. Ketua LSM Suaka ,Bustami Taefuri, soroti soal pipanisasi PDAM yang dinilainya tidak perhatikan rembesan air untuk pertahankan siklus air.  Sebesar Rp.14 miliar  APBD selalu nyantol di PDAM. Namun, anggaran itu tidak membuat pelayanan kebutuhan air semakin membaik. “Tetapi betul PDAM telah mampu sebagai perusahaan penyerapan tenaga kerja, tetapi SDM yang direkrut tidak sesuai dengan bidang keahlian. Entah bisa jadi rekrutmen hanya berdasar kepentingan politik saja,”Katanya.

Begitu juga dengan Balai Wilayah Sungai (BWS), dinilai Bustami,  hanya orientasi proyek. Apalagi yang diandalkan hanya sumur bor, maka itu bisa membahayakan bagi nasip air kedepan. Kaitan dengan penanaman hutan, tidak ada coordinator sehingga pelestarian hutan dengan reboisasi tidak pernah berhasil. “Maka PDAM sebagai salah satu pengelola air ini, bisa mengeluarkan CSR-nya sekarang untuk menghijaukan kembali hutan itu dengan serius agar benar-benar berhasil,”Ujarnya.

Untuk menyelesaikan masalah air yang ada saat ini lanjut Bustomi, pihak terkait harus memikirkan cara-cara baru agar aliran menjadi lancar. Saat ini dengan hanya mengandalkan grafitasi bumi saja, maka teknologi itu sudah sangat promitif dan harus dicarikan lagi teknologi baru, sehingga hambatan dengan posisi geografis wilayah bisa dipecahkan.”Intinya PDAM harus memikirkan teknologi baru untuk atasi semua ini,”Tandasnya.

Sementara itu, Eksekutif Nasional Walhi Jakarta, Ahmad,SH menyampaikan pandangnya tentang air, dari persfektif keyakinan religius . Mengutip panda sifa, seoranf profesor dari india, ia mengatakan air adalah kehidupan, tanpa air demokrasi itu sendiri tidak hidup. “Air tidak semata-mata konsusmi manusia tetapi sudah masuk dalam peta peprangan dunia. Jadi sangat penting sebagai salah satu sumber kehidupan,”Katanya.

Saat ini air sudah mulai dikuasai oleh privasi karena dikuasai oleh pasar.  Fakta yang ada, sepanjang waktu  sebagian besar masyarakat tidak pernah cukup air , khususnya yang ada diwilayah selatan. Padahal diketahui,  Lombok Tengah punya 2 bendungan atau dam yang cukup besar.”Bisa jadi hal itu akibat dari perspektif kita keliru tentang air ini. Air selalu kita maknakan untuk pertanian atau irigasi, bukan sebagai sumber kehidupan,”Jelasnya.

Ketua Lembaga Pemerhati Lingkungan Blue Green Indonesia, Dian Sandi, melihat persoalan air seperti bom waktu.Bulan efektif untuk PDAM dalam mengelola air hanya 2 bulan setiap tahun, untuk disalurkan ke masyarakat. Dengan lamanya PDAM, namun belum mampu mengeluarkan teknologi baru, padahal masih banyak yang bisa dilakukan untuk penuhi kebutuhan air tersebut.

Menjawab berbagai persoalan tersebut, satu persatu dari dinas dan istansi terkait memberikan tanggapan. Tidak ada yang dipersalahkan dalam diskusi itu. Semua yang hadir berniat, agar setiap persoalan dicarikan jalan kelauarnya. Karena bahwasanya, masalah diyakini bukan disebabkan oleh orang perorang, namun bisa jadi karena system yang diterapakan kurang baik.

Direktur Bidang Teknik, PDAM, Lalu Kemi menanggapi berbagai macam pendapat itu mengatakan,  penggunaan teknologi baru, memang terus dipikirkan dan dicari oleh pihak PDAM untuk mengatasi berbagai masalah seperti yang diungkapkan oleh beberapa kalangan yang angkat bicara pada diskusi tersebut. “Untuk kecamatan Praya Timur diantaranya desa Mujur, Lelong dan Srewe selama ini menggunakan  sistim sesere dalam pembagian aliran air ke pelanggan. Nanti akalau ada teknologi baru pasti akan digunakan,”Jelasnya.

Permintaan pasang baru lanjut L.Kemi, terus mengalami peningkatan. Desa Kidang dan Bilelando minta 2500 pemasangan baru dan diusahakanuntuk bisa dilayani pada tahun 2016. “ Semoga ditahun 2016 nantinya bisa melayani dengan teknologi yang perlu ditingkatkan,”Katanya.

Fungsi sosial diakui PDAM memang tipis . Terkait soal anggaran yang digelontorkan ke PDAM, untuk tahun ini sebesar Rp.6 miliar untuk melakukan pemasangan baru, demi mendapatkan dana hibah sesuaidnegan standar pelayanan yang ditentukan pemerintah pusat. “Nah dana hibah itu kemudian masuk ke kas daerah sebagai reward telah mampu penuhi target pemasangan baru itu,”Terang Lalu Kemi.

Terkait kondisi  air baku seperti yang disampaikan para  kades, diakui benar oleh Lalu Kemi. Ketersediaan sumber mata air terus berkurang yang akibatkan debit air yang dialirkan juga terus berkurang. Untuk itu berbagai upaya dilakukan pihaknya dalam pendistribusian air dengan sistim yang all out ke masyarakat.”Hal itu terlepas dari peran masyarakat untuk terus melindungi sumber mata air kita,”Ucapnya.

Namun yang perlu disyukuri seklaigus perlu penjagaan ekstra lanjut Lalu Kemi, kondisi aik bukak yang saat ini masih memiliki pohon besar  sehingga mampu hasilkan air sebanyak 70 liter perdetik yang selama ini dialirkan ke Praya dan Batukliang. “Namun demikian, pelayanan belum bisa maksimal. Apalagi musim hujan keruah dan itu belum bisa diatasi oleh kami, memang sangat benar , kita butuh teknologi baru untuk mengatasi semua ini,”Tandasnya.

Seksi pembangunan bidang pengairan PU ESDM, Zulkipli pada kesempatan tersebut, juga menanggapi berbagai persoalan yang terkait dengan pihaknya. Terutama soal keberadaan Bendungan Batujai yang yang ternyata tidak juga mampu mencukupi kebuthan air. Ia menyebut, luas Bendungan Batujai hanya 3500 hektar, yang sebagian airnya ke Lombok barat. “Air yang ke Lombok Barat itu, penggantinya  adalah air yang bersumber dari sungai jangkok babak. Itulah yang disebut sistim interkoneksi atau ketergantungan,”Jelasnya.

Untuk desa aik berik, Zulkipli menyebut kalau Bendungan Kokoh Jempong itu merupakan proyek etnis yang dulu diprakarsai oleh pihak PU-ESDM dengan sistim bronjong karena struktur tanahnya labil. Mengenai tindak lanjut mengenai usulan perbaikan, akan disampaikan ke kepala bidang terkait.”Untuk  Kades aik bukak, soal jadwal air ada pengaturan se Lombok tengah. Namun karena cuaca saat ini masih musyawarah tentang alokasi air se wilayah Lombok tengah  oleh tim provinsi yang berwenang melakukan penjadwalan itu,”Terangnya sembari menambahkan, bagi warga yang bayar air kepada oknum,dipersilahkan untuk lapor ke pihak dinas.

Sebagai komentator pamungkas pada diskusi tersebut, anggota DPRD, Lalu Ramdhan sepakat adanya permasalahan air yang ada di Lombok Tengah, terutama dari sisi tata kelolanya. Begitu juga dengan kondisi sumber mata air yang sudah turun secara drastis. Belum lagi kebutuhan air semakin meninkat.”Lihat saja ada bandara, hotel-hotel baru dan juga destinasi wisata yang mau dibangun oleh investor bila ketersediaan air bersih juga cukup,”Katanya.

Begitu juga masalah yang terjadi ditengah-tengah masyarakat. Kalau wilayah utara saja yang nota bene sumber mata air saja masih kekurangan , apalagi masyarakat yang ada diwilayah selatan. Itu soal air bersih dan juga irigasi yang kurang sehingga sebabkan gagal tanam. “Inilah yang tentu saja akan menjadi bahan kita semua untuk berfikir tentang bagaimana cara mengatasinya secara bersama-sama,”Imbuhya.

Lalu Ramdhan berharap, agar pihak dinas kehutanan hadir dalam diksusi tersebut. Pihak DPRD siap diskusi dan membantu dalam rangka penganggaran asal pihak dinas terkait melakukan koordinasi dan komunikasi dalam dikusi-diskusi seperti yang diadakan di Bale Bajang Tersebut.”Saya ingin agar diskusi-diskusi seperti ini, tidak hanya sekedar diskusi namun bisa menghasilkan sesuatu yang kongkrit untuk ditindak lanjuti demi perbaikan kedepan,”Pungkasnya. 001

Iklan Teks


Raih ketenangan dengan akses yang luas di Bank Muamalat
Jasa pegadaian berprinsip syariah Islam, kunjungi situs resmi Pegadaian Syariah
Memberikan yang terbaik sesuai kaidah Islam, kunjungi situs resmi BNI Syariah