Published On: Fri, Jul 17th, 2015

Dari Jadi Tukang Tenun Hingga Punya Usaha Tenun Sendiri

dibaca 1,760 kali
Share This
Tags

TENUNRADIO LOMBOK FM – Berawal dari tekun menenun pada orang lain,hingga berbuah hasil memiliki usaha tenun sendiri. Itulah perjalanan usaha yang dilakukan Maryam (36) warga Desa Sukarara Kecamatan Jonggat. Berkat jiwa wira usaha yang ia miliki sejak kecil, kini menjadi salah satu pengusaha tenun yang cukup diperhitunngkan.

Lahir sebagai anak seorang penenun , Maryam mengaku sejak kecil sudah sangat familiar dengan usaha jual-beli tenun. Apalagi Desa Sukarara, tempat tinggal Maryam , memang sejak lama dikenal sebagai salah satu sentra tenun di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. “Selain bertani ,sekitar 70% penduduk Sukarara adalah wanita. Dimana 98% diantaranya bermata pencaharian sebagai penenun,”tuturnya pada Minggu (12/7) 2015 pada reporter Lombok FM.

Kain hasil tenunan para perajin, baik berupa tenun songket maupun tenun ikat, ada yang dijual sendiri dan ada juga yang dibeli sejumlah art shop yang ada.

Di ceritakan, Pembuatan kain tenun umumnya memakan waktu cukup lama yakni sekitar sebulan tergantung motif dan jenis benang yang digunakan. “Berbagai Motif kain tenun mulai dari subahnale,bintang,keker,bulan,nanas dan lainya merupakan motif yang banyak digemari para tamu,”ungkapnya.

Selain dijual dalam bentuk kain, ada juga kain yang dijadikan beragam produk seperti baju, sarung untuk bawahan, syal, selendang, taplak meja, hingga jaket. Harga jualnya pun bervariasi, mulai yang termurah berupa syal seharga Rp 50 ribu hingga yang termahal berupa kain bermotif agak rumit yang dibandrol Rp7 juta.

Seadangkan untuk kain tenun biasa, dijual mulai dari harga Rp.150.000 hingga Rp.2 juta. Dengan produk dan kisaran harga tersebut, usaha dagang kain tenun yang dijalani Maryam sangat bergantung kepada jumlah tamu yang datang. “Pengunjung yang datang ke desa Sukarara saat ini agak berkurang, apalagi saat bulan puasa begini,”ungkap Maryam.

Yang menjadi kendala pemasaran saat ini jelas Maryam, adanya permainan dari pihak lain. Banyak tamu yang sudah di handle oleh para Travel. Kesepakatan tamu dengan pihak travel sering kali dilanggar untuk mendapat untung lebih. “Walaupun

kesepakatan dengan tamu dibawa ke desa Sukarara, namun terkadang pihak travel atau guide membawa tamu bersangkutan ke desa lain dimana mereka dapat memperoleh fee lebih banyak,”ujarnya.

Para wisatawan tamu yang datang ke NTB umumnya akan dipandu untuk mampir di Sukarara yang dikenal sebagai desa sadar wisata tenunan. Di sini, para turis bisa melihat langsung proses pembuatan tenun secara manual sekaligus berbelanja produk di showroom tenun yang bisa ditemui hampir di setiap rumah penduduk di Desa Sukarara tersebut.|001|0024

Iklan Teks


Raih ketenangan dengan akses yang luas di Bank Muamalat
Jasa pegadaian berprinsip syariah Islam, kunjungi situs resmi Pegadaian Syariah
Memberikan yang terbaik sesuai kaidah Islam, kunjungi situs resmi BNI Syariah