Published On: Wed, May 11th, 2016

Dageng Liu: 9 Indikator Kerawanan Pangan Dan Gizi

dibaca 749 kali
Share This
Tags

h4RADIO LOMBOK FM, MATARAM – Sembilan indikator kerawanan pangan dan gizi kronis tersebut digunakan untuk membuat komposit 105 kecamatan di 8 kabupaten di NTB ke dalam kelompok prioritas,ungkap Deputy Country Director (DCD) World Food Programe (WFP) Dageng Liu dalam acara Sosialisasi Peta Ketahanan Pangan dan Kerentanan Pangan (Food Security and Vulnerability Atlas / FSVA) 2015 untuk NTB.

Dageng Liu menambahkan, secara keseluruhan kondisi ketahanan pangan dan gizi di NTB telah meningkat dibandingkan dengan FSVA NTB 2010. Pada 2015, tidak ditemukan kecamatan yang tergolong rawan pangan, Produksi bahan pangan pokok seperti padi, jagung, dan ubi kayu meningkat signifikan sejak FSVA 2010.

Meskipun demikian, resiko untuk ketahanan pangan masih ada seperti telihat pada tingginya angka kekurangan gizi kronis dan kemiskinan, Angka kemiskinan mencapai 16 persen di tahun 2015, lebih tinggi dari rata-rata nasional dan mencapai lebiah dari 30 persen di Kabupaten Lombok Utara.

Selanjutnya, hampir satu dari lima perempuan di NTB tidak dapat membaca, dan merupakan angka buta huruf kedua untuk seluruh provinsi di Indonesia. Rendahnya angka perempuan melek huruf di NTB akan membatasi peluang mereka dan sebagai pengasuh utama anak-anak mereka nantinya akan menghambat perkembangan generasi berikutnya.

Seperti yang ditekan dalam FSVA ini, salah satu permasalahan utama di Indonesia adalah mengatasi tingginya kurang gizi kronis, Stunting sebagai outcome dari kurang gizi kronis, berkaitan dengan resiko bagi peluang kesehatan dan ekonomi dari balita dan merupakan tantangan pembangunan yang utama, ungkap Dageng Liu.

Lebih lanjut lagi ia memaparkan, berdasarkan data Pemantauan Status Gizi (PSG) NTB 2014, satu dari tiga anak di bawah lima tahun di NTB mengalami stunting atau pendek. Akses air bersih dan sanitasi yang rendah berkontribusi terhadap kekurangan gizi kronis di NTB, hanya 30 persen rumah tangga yang memiliki akses air bersih dan layak minum serta hanya 41 persen yang memiliki akses ke fasilitas sanitasi yang memadai.

Perubahan iklim dan degradasi lingkungan menimbulkan resiko serius terhadap ketahanan pangan NTB. Kekeringan pada tingkat parah sering terjadi di sebagian besar di wilayah NTB dan di prediksi akan meningkat frekuensi dan keparahannya di masa mendatang.

Adaptasi penghidupan terhadap perubahan iklim, manajemen sumber daya alam, dan perlindungan lingkungan sangat penting bagi masyrakat untuk berkembang di masa depan. Dan pada bulan maret 2016, merupakan awal WFP memulai program kerja lima tahun yang baru yaitu mendukung pemerintah terkait dengan ketahanan pangan dan gizi di Suitainable Dvelopment Goals.

Selanjutnya WFP akan menargetkan tiga hasil strategis dalam program kerja baru, yang pertama memperioritaskan pendekatan berbasis bukti untuk menurunkan kerawanan pangan parah pada kelompok penduduk dan daerah rentan. Untuk mencapai tujuan tersebut, kegiatan utama WFP adalah mendukung pemerintah dalam mengumpulkan dan menganalisa data ketahanan pangan dan gizi untuk mendukung program dan kebijakan yang optimal. |006|008|.

Iklan Teks


Raih ketenangan dengan akses yang luas di Bank Muamalat
Jasa pegadaian berprinsip syariah Islam, kunjungi situs resmi Pegadaian Syariah
Memberikan yang terbaik sesuai kaidah Islam, kunjungi situs resmi BNI Syariah