Published On: Fri, Dec 28th, 2018

2019, Kejati NTB Lanjutkan Penyelidikan Kasus Dua Dermaga Apung di Lombok Tengah

dibaca 265 kali
Share This
Tags

RADIO LOMBOK FM, Mataram-Penyelidikan kasus pembangunan dua dermaga apung di Lombok Tengah (Loteng), yakni di Pantai Kuta dan Pantai Selong Belanak oleh Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTB akan tetap dilanjutkan. Meski tidak tuntas pada tahun 2018 ini, pihak Kejati NTB akan meneruskannya di tahun 2019 mendatang.

Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati NTB Ery Ariansyah Harahap menjelaskan, Jaksa penyelidik masih berupaya mengumpulkan bukti dan keterangan saksi dan masih berproses hingga 2019 mendatang.

“Sebenarnya kasus ini awalnya ditangani Kejari Lombok Tengah. Namun, kasusnya ini kita (Kejati NTB, red) ambil alih NTB dengan mengusut dua objek. Diantaranya, dermaga apung di Pantai Kuta dan Selong Belanak. Nilai proyek keduanya mencapai lebih dari Rp 5 miliar,” ujar Ery Ariansyah Kamis (27/12) di Mataram.

Menurut Ery, penyelidikan terhadap kasus ini, terkait spesifikasi pengadaan yang diduga digelembungkan. Kejati NTB sempat menunda penyelidikan kasus tersebut. Karena adanya pemeriksaan dari aparat pengawas internal pemerintah (APIP) atau Inspektorat Lombok Tengah. Pemeriksaan mengenai berapa nilai yang harus dibayar rekanan karena tidak menyelesaikan pekerjaan.

Dijelaskan Ery, setelah Inspektorat turun, rekanan diketahui telah membayar kekurangan volume. Kasus kini dilanjutkan kembali setelah setelah masuknya Inspektorat Lombok Tengah.

Informasi yang dihimpun RADIO LOMBOK FM menyebutkan, anggaran proyek dermaga apung Kuta ini berasal dari Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (KDPDTT) tahun 2017 dengan total anggaran sebesar Rp 3 miliar.

Sesuai kontraknya, pengerjaan dermaga harus tuntas di Desember 2017. Meski telah ditarget, proyek ini sempat molor. Bukan itu saja, ketika proyek baru berusia tujuh bulan usai dikerjakan, dermaga apung perlahan mengalami kerusakan bahkan roboh.

Kerusakan terjadi pada pelat pengikat tiang pancang dengan pijakan apung. Tak lama, beton cor yang menghubungkan dermaga dengan daratan ikut rusak. Demikian juga kerusakan lainnya juga ditemukan.

Diantaranya gelang pengikat, pontoon HDPE, tiang pancang, dan lampu penerangan, juga satu per satu mengalami kerusakan.
Proyek dermaga apung ini juga menjadi temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait kekurangan volume pekerjaan. Nilainya, mencapai Rp 157 juta. (07/036)

Iklan Teks


Raih ketenangan dengan akses yang luas di Bank Muamalat
Jasa pegadaian berprinsip syariah Islam, kunjungi situs resmi Pegadaian Syariah
Memberikan yang terbaik sesuai kaidah Islam, kunjungi situs resmi BNI Syariah